Sholat

بسم الله الرحمن الرحيم

Min Akhthaa’il Mushalliin

(Beberapa Kesalahan Dalam shalat)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya semua. Amma ba’du:

Berikut ini beberapa kekeliruan yang sering dilakukan seseorang dalam shalat, kami ingatkan sebagai bentuk nasihat kami bagi kaum muslimin. Mudah-mudahan Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjadikan risalah ini bermanfaat, Allahumma aamiin.

  1. 1.   Melafazkan niat (seperti mengucapkan “Ushalliy…dst.”)

Imam Ibnul Qayyim berkata dalam Ighaatsatul Lahfaan, “Niat adalah keinginan dan kemauan terhadap sesuatu, tempatnya di hati, tidak ada kaitannya sama sekali dengan lisan. Oleh karena itu, tidak ada nukilan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya bahwa niat itu dilafazkan. Lafaz yang diucapkan ketika hendak memulai bersuci dan shalat ini dijadikan oleh setan sebagai (alat) perlawanan terhadap orang yang was-was, di mana hal ini membuat mereka (orang yang was-was) tertahan (dari melakukan sesuatu) dan merasa tersiksa, bahkan membuat mereka ingin tetap terus membetulkan (niatnya karena merasa tidak sah dan kurang puas), oleh karenanya kamu melihat di antara mereka ada yang mengulanginya, ada juga yang bersusah payah mengucapkannya, padahal hal itu tidak termasuk bagian shalat sedikit pun.”

  1. Menjaharkan/mengeraskan dzikr-dzikr dalam shalat (termasuk bacaan Al Qur’annya pada shalat yang disirrkan/dipelankan bacaannya).

Misalnya ketika seseorang shalat terdengar bacaan dzikrnya oleh orang yang shalat di kanan-kirinya sehingga mengganggu orang yang berada di kanan-kirinya itu.

  1. Tidak menggerakkan lisan dan dua bibir ketika membaca dzikr-dzikr shalat (termasuk bacaan Al Qur’annya).

Dalam membaca dzikr (termasuk bacaan Al Qur’annya pada shalat yang disirrkan bacaannya) dalam shalat, yang benar adalah pertengahan antara no. 2 dan no. 3 di atas (tidak menjaharkan dzikirnya itu, tetapi ia baca sehingga kalau pun terdengar hanya suara lirih/dandanah saja namun tidak dapat dipahami oleh yang berada di sebelahnya karena pelan) –Wallahu a’lam-.

  1. Bersandar ke tiang atau tembok ketika shalat padahal tidak dibutuhkan.

Jika dibutuhkan maka tidak mengapa seperti karena ia tidak kuat berdiri lama, ia sudah tua atau sakit atau sedang lemah dsb.

  1. 5.   Tidak mau merapatkan shaff (barisan) dan meluruskannya, tetapi malah membuat celah di dalam shaff.
  2. 6.   Tidak menutup pundak dalam shalatnya.
  3. 7.   Tidak thuma’ninah di dalam shalat.

Thuma’ninah adalah rukun shalat, dimana kalau seseorang meninggalkannya maka tidak sah shalatnya. Thuma’ninah adalah diam sejenak setelah benar-benar ruku’, sujud, i’tidal atau pun duduk di antara dua sujud minimal lamanya seukuran sekali ucapan tasbih. Kita dapat melihat banyak orang yang belum sempurna ruku’ atau sujudnya, ia langsung bangkit dan melakukan shalat seperti burung yang sedang mematuk (cepat sekali). Orang yang melakukan shalat dengan tidak thuma’ninah seperti itu adalah tidak sah dan wajib diulangi.

  1. Tidak menyentuhkan ke lantai salah satu dari tujuh anggota sujud.

Misalnya hidung tidak disentuhkan ke lantai, tetapi hanya dahinya saja, kedua kaki tidak disentuhkan, atau bahkan menaruh salah satu kakinya di atas yang lain dsb.

  1. Kaffuts tsaub wasy sya’r fish shalaah (menarik/mengangkat kain dan rambut dalam shalat).

Imam Nawawi mengatakan, “Paraulama sepakat tentang terlarangnya shalat, sedangkan bajunya, lengan bajunya dan sebagainya diangkat (digulung).”

Adayang mengatakan bahwa hikmahnya adalah karena menarik kain dan rambut agar tidak tersentuh tanah adalah kebiasaan orang-orang yang sombong, maka kita dilarang berbuat begitu agar tidak mirip orang-orang yang sombong. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat makruh melakukan demikian bagi orang yang shalat, baik dilakukan di dalam shalat maupun sebelum memasuki shalat.

10.Tidak langsung mengikuti imam ketika baru datang (masbuq) bahkan malah menunggu imam menyelesaikan gerakannya dsb.

Bagi masbuq wajib mengikuti imam bagaimana pun keadaan imam setelah didahului takbiiratul ihram. Jika ia  (masbuq) kurang beberapa rakaat, ia tambahkan rakaatnya itu setelah imam salam.

11.Tidak mengikuti imam.

Termasuk tidak mengikuti imam adalah mendahului imam (musaabaqah), bersamaan (muwaafaqah) dan berlama-lama (tidak segera) mengikuti imam (takhalluf). Oleh karena itu, hendaknya makmum langsung mengikuti imam setelah imam selesai mengucapkan “Allahu akbar”, dan bagi imam hendaknya tidak terlalu panjang mengucapkan takbir.

12.Mendatangi masjid dengan tergesa-gesa.

13.Mendatangi masjid sehabis makan bawang merah atau putih atau makanan yang memiliki bau tidak sedap.

14.Melakukan shalat sunnah ketika iqamat sudah dikumandangkan.

Jika masih baru memulai shalat, maka ia putuskan shalatnya itu, namun jika sudah hampir selesai atau sudah rakaat terakhir, maka ia lanjutkan dengan ringan.

15.Memanjangkan takbir hingga kata terakhirnya “Akbaaaar.”

16.Makmum mengeraskan takbiratul ihram dan takbir intiqalnya (berpindah gerakan) seperti halnya imam.

Yang mengeraskan takbir hanyalah imam, makmum tidak perlu mengeraskan takbirnya, kecuali jika dibutuhkan. Misalnya takbir imam tidak terdengar oleh shaf bagian belakang, Hal ini pun tidak perlu banyak orang.

17.Meludah ke arah kiblat atau ke kanannya.

18.Melakukan shalat di pemakaman, dan shalat di masjid yang dibangun di sekitar pemakaman; baik kubur tersebut di depannya (ini lebih parah), di kanannya maupun di kirinya.

Dalam Al Qaulul Mubiin disebutkan, “Yang shahih adalah dilarang shalat di masjid yang terletak di antara kubur-kubur sampai antara masjid dengan pekuburan ada penghalang lagi, dan bahwa dinding masjid tidak cukup menghalangi antara dia dengan kuburan.”

19.Diharamkan juga shalat di dekat kuburan, juga haram shalat menghadap ke kuburan dan di atas kuburan.

20.Banyak bergerak ketika shalat meskipun tidak berturut-turut.

Misalnya melihat jam tangan, memandang ke kanan dan ke kiri ketika shalat, memandang ke langit, menengok dsb.

21.Shalatnya sebagian orang yang sakit dalam keadaan duduk padahal mampu berdiri.

22.Tidak mau berhias kepada Allah ketika hendak shalat.

Misalnya memakai baju yang jelek atau kurang layak ketika shalat, padahal masih ada baju yang bagus atau lebih layak dsb.

23.Menentukan tempat khusus untuk shalat ketika di masjid –selain imam-.

Dalam hadits hasan dari Abdurrahman bin Syibl ia berkata:

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ r عَنْ نُقْرَةِ الْغُرَابِ ، وَافْتِرَاشِ السَّبُعِ ، وَأَنْ يُوَطّنَ الرَّجُلُ الْمَكَانَ فِي الْمَسْجِدِ كَمَا يُوَطِّنُ الْبَعِيْرُ

“Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang (shalat dengan cepat) seperti mematuknya burung gagak, (sujud dengan menidurkan siku) seperti binatang buas dan melarang seseorang menetapi tempat khusus (untuk shalat) di masjid seperti halnya unta.” (HR. Ahmad, Darimi, Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan hakim, dan dihasankan oleh Syaikh Masyhur bin Hasan dalam Al Qaulul Mubin)

24.Shalat memakai baju yang bergambar makhluk bernyawa.

Jika gambarnya bukan gambar makhluk bernyawa, tetapi hanya corak-corak saja atau ukiran yang bisa mengganggu kekhusyuan maka hukumnya makruh. Akan tetapi, jika gambarnya adalah gambar makhluk bernyawa maka hukumnya haram, karena sesuatu yang di luar shalat haram maka lebih haram lagi jika dibawa ke dalam shalat. Kita bisa melihat di zaman sekarang ada yang shalat dengan memakai baju bergambar binatang, bergambar manusia, ada pula yang berupa foto dsb.

25.Mengucapkan “Rabbigh firliy” ketika hendak mengucapkan amin setelah membaca surat Al Fatihah. Ini termasuk diada-adakan.

26.Mengucapkan “alaihimas salam” setelah mendengar imam membaca “Shuhufi Ibraahiima wa muusaa.” Ini pun sama termasuk diada-adakan.

27.Wanita mendatangi masjid tanpa mengenakan hijab (jilbab) syar’i.

Di zaman sekarang, zaman dimana umat Islam sudah jauh dari agamanya, hal ini sudah menjadi hal yang biasa, sungguh sangat disayangkan banyak para imam masjid malah diam saja tidak mau mengingatkan, padahal wanita yang keluar mengenakan hijab syar’i hanya memakai minyak wangi saja dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ikut shalat bersama Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam apalagi hal ini (mendatangi masjid tanpa memakai jilbab).

28.Shalat dengan kepala miring.

29.Shalat dengan aurat terbuka.

Misalnya ketika shalat memakai baju yang pendek, sehingga ketika ruku’ atau sujud bajunya tersingkap, lalu kelihatan bagian bawah punggungnya. Memakai baju seperti ini berarti telah membuka auratnya, dan terbuka auratnya dapat menyebabkan batalnya shalat.

30.Mengucapkan “Subhaan mal laa yanaamu wa laa yas-huu” ketika sujud sahwi.

Disebutkan dalam kitab As Sunan Wal Mubtada’aat, “Dan tidak ada riwayat yang dihapal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dzikr khusus untuk sujud sahwi, bahkan dzikrnya adalah sama seperti dzikr sujud yang lain dalam shalat, adapaun ucapan ““Subhaan mal laa yanaamu wa laa yas-huu” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakannya, tidak pula sahabat dan tidak ada dalil dari As Sunnah sama sekali.

31.Tambahan “Sayyiidinaa” dalam bacaan shalawat.

Hal ini, karena masalah ta’abbudiy (ibadah) baik berupa dzikr maupun perbuatan tidak boleh ditambah-tambah.

32.Shalat dengan celana atau sarung yang isbal (kainnya menjulur melewati mata kaki).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فَفِي النَّارِ *

“Yang melewati mata kaki berupa sarung (atau lainnya) adalah di neraka.” (HR. Bukhari)

Jika ditambah dengan kesombongan, maka lebih besar lagi dosanya.

33.Mengganggu orang yang sedang shalat dengan bacaannya.

Jika seseorang melakukan shalat secara sendiri (misalnya shalat malam) sedangkan di situ ada orang lain yang sedang shalat malam juga maka hendaknya masing-masing tidak mengganggu yang lain dengan mengeraskan bacaan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

أَمَا إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ فَلْيَعْلَمْ أَحَدُكُمْ مَا يُنَاجِي رَبَّهُ وَلَا يَجْهَرْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ بِالْقِرَاءَةِ فِي الصَّلَاةِ * (احمد)

“Sesungguhnya salah seorang diantara kamu jika berdiri dalam shalat itu sedang bermunajat (berbisik-bisik) dengan Tuhannya. Oleh karena itu, hendaknya ia mengetahui munajatnya itu kepada Tuhannya, dan janganlah sebagian kamu mengeraskan bacaan dalam shalat kepada sebagian yang lain.” (HR. Ahmad, hadits ini setelah kami periksa sanadnya adalah shahih)

Di hadits tersebut kita dilarang mengganggu orang  yang shalat dengan suara keras kita, namun di zaman sekarang kita melihat ketika ada yang sedang shalat, orang-orang bersuara keras dengan pengeras suara melantunkan sya’ir di antara azan dan iqamat. Sudah tentu, hal ini lebih dilarang lagi, apalagi yang mereka lantunkan itu terkadang mengandung kata-kata ghuluw (memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlebihan) atau bahkan sampai mengandung kesyirkkan, seperti dalam shalawat nariyah –Wallahul musta’aan-.

Beberapa Kesalahan Dalam Dzikr Setelah Shalat

Dalam berdzikr setelah shalat, banyak orang yang menyelipkan tambahan-tambahan yang sebenarnya bukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya adalah: (1) membaca surat Al Fatihah, (2) membaca Laailaahaillallah 100 kali, (3) membaca dzikrnya secara jama’i (karena yang sesuai contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membacanya masing-masing dan tidak dipimpin), (4) membaca dzikrnya sambil mengoyang-goyang kepala dan (5) setelah berdzikr berdiri bersama-sama membuat lingkaran sambil bersalam-salaman. Ini semua tidak kami temukan keterangannya dari Al Qur’an maupun As Sunnah. Oleh karena itu hendaknya seorang muslim membatasi dzikirnya dengan dzikr dan cara yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saja, karena sebagaimana dikatakan ulama,

اَلْإِقْتِصَادُ ِفى السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ اْلِإجْتِهَادِ فِى اْلبِدْعَةِ

“Sedikit namun di atas Sunnah/contoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik daripada banyak namun diada-adakan.”

Demikianlah beberapa kekeliruan yang sering dilakukan sebagian orang baik dalam shalat maupun dzikr setelah shalat, semoga nasihat ini bermanfaat baik bagi saya pribadi maupun bagi saudara saya kaum muslimin.

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa Nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraaji’: Fiqhus Sunnah (Syaikh As Sayyid Saabiq), Al Qaulul Mubiin (Syaikh Masyhur bin Hasan), Ad Dalil Al ‘Ilmiy (Abdul ‘Aziz As Sadhaan), Muharramaat istahaana bihan naas (Syaikh M. bin Shalih Al Munajjid), Min Ahkaamish shalaah (Syaikh M. bin Shalih Al ‘Utsaimin).

بسم الله الرحمن الرحيم

Tata cara Shalat Nabi

Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari)

Atas dasar hadits ini, kami ingin menyampaikan sifat (tata cara) shalat yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan harapan semoga kita semua dapat menirunya.

Sifat shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak shalat berdiri menghadap kiblat.

Beliau berdiri dekat dengan sutrah[1] (yakni penghalang baik berupa dinding, kayu, cagak maupun lainnya) agar tidak dilewati orang. Jarak berdiri Beliau dengan sutrah kira-kira tiga hasta (satu hasta adalah dari ujung jari tengah hingga ujung sikut).

Sebelum memulai shalat, kita harus berniat di hati (tidak di lisan), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Innamal a’maalu bin niyyaat” (sesungguhnya amal itu tergantung dengan niat).

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir, mengucapkan “Allahu akbar” sambil mengangkat kedua tangan. Terkadang takbir Beliau bersamaan dengan mengangkat kedua tangan, terkadang sebelum mengangkat kedua tangan (HR. Bukhari dan Nasa’i) dan terkadang setelah mengangkat kedua tangan (HR. Bukhari dan Abu Dawud). Jari-jari tangan Beliau tegak, tidak direnggangkan dan tidak dirapatkan. Kedua telapak tangan Beliau setentang dengan bahu, terkadang setentang dengan telinga.

Setelah itu, Beliau menaruh tangan kanan di atas tangan kiri (bersedekap) di dadanya (boleh digenggam tangan kirinya dan boleh juga tidak). Telapak tangan kanan Beliau diletakkan di atas telapak tangan kiri, pergelangan dan hastanya.

Beliau menundukkan kepalanya dan mengarahkan pandangan mata ke tempat sujud.

Kemudian membaca doa iftitah, doa yang Beliau ajarkan ada beberapa macam, di antaranya sbb:

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ، كَمَا يُنَقَّىالثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ

Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah antaraku dan antara kesalahanku sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan sebagaimana dibersihkan baju putih dari noda. Ya Allah, cucilah kesalahanku dengan air, air es dan air dingin.”

Lalu Beliau berta’awwudz; mengucapkan “A’uudzu billahis samii’il ‘aliim minasy syaithaanir rajiim min hamzihi wa nafkhihi wa naftsih” dan mengucapkan “Bismillahir rahmaanir rahiim” dengan tidak dikeraskan suaranya dan membacasurat Al Faatihah ayat-perayat (tidak disambung).

Setelah Beliau selesai membacasuratAl Fatihah, Beliau membaca “Aamiiiiiin” dengan menjaharkan/mengeraskan suaranya dan memanjangkannya.

Selesai membacasuratAl Fatihah, Beliau membacasuratyang lain, terkadangsuratyang Beliau baca cukup panjang dan terkadang pendek. Beliau biasa membacasuratpada rak’at pertama lebih panjang daripada rak’at kedua.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaharkan bacaansuratAl Fatihah dansuratsetelahnya dalam shalat Shubuh, Maghrib dan Isya pada dua rak’at pertamanya. Beliau juga menjaharkan bacaan tersebut dalam shalat Jum’at, shalat ‘Iedain (dua hari raya), shalat istisqa’ (shalat meminta kepada Allah agar diturunkan  hujan) dan shalat kusuf (gerhana).

Setelah Beliau selesai membacasuratyang lain setelah Al Fatihah, Beliau diam sejenak (Menurut Ibnul Qayyim, diam Beliau pada saat ini seukuran tarikan nafas), lalu mengangkat kedua tangan dan bertakbir, kemudian ruku’. Ketika ruku’, Beliau meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua lututnya, menekannya dan merenggangkan jari-jarinya seakan-akan Beliau menggenggam lututnya.

Saat ruku’, Beliau menjauhkan kedua sikut dari rusuknya, kepala Beliau tidak didongakkan ke atas dan tidak ditundukkan, akan tetapi pertengahan di antara kedua. Pada saat ruku’ Beliau meluruskan punggungnya, sehingga jika sekiranya air dituangkan di atasnya bisa menetap (tidak tumpah). Beliau  ruku’ dengan thuma’ninah (diam sejenak setelah benar-benar ruku’, ukuran lama thuma’ninah kira-kira seukuran satu kali tasbih (ucapan “subhaana rabbiyal ‘azhiim”)), ketika ruku’ Beliau membaca:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْم

Artinya: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung.”(sebanyak 3 X atau lebih)

Beliau juga mengajarkan dzikir yang lain di samping dzikr di atas, terkadang Beliau membaca dzikr di atas dan terkadang Beliau membaca dzikr yang lain. Beliau melarang kita ketika ruku’ membaca ayat Al Qur’an.

Setelah itu, Beliau bangkit dari ruku’ mengucap “Sami’allahu liman hamidah” sambil mengangkat kedua tangan, badannya tegak lurus kemudian membaca:

رَبَّنَا وَلَكَ اْلحَمْدُ

Artinya: “Wahai Tuhan kami, untuk-Mulah segala puji.”

Terkadang Beliau menambahkan:

حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

Artinya: “Dengan pujian yang banyak, baik lagi diberkahi.”

Dan terkadang menambahkan dengan dzikr yang lain selain di atas. Beliau juga memerintahkan untuk thuma’ninah ketika i’tidal.

Faedah: Apakah ketika i’tidal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersedekap atau melepas tangannya ke bawah (irsal)?

Imam Ahmad berkata: “Jika ia mau, ia boleh melepas tangannya ke bawah setelah bangkit dari ruku’, dan jika ia mau, ia boleh bersedekap.”

Imam Ahmad rahimahullah berpendapat demikian, karena tidak ada dalil yang tegas/sharih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersedekap atau irsal (melepas tangan ke bawah). Wallahu a’lam.

Beliau kemudian bertakbir lalu turun untuk sujud dengan mendahulukan kedua tangan sebelum lutut. Kedua telapak tangan Beliau dibuka (tidak dilipat), namun jari-jarinya dirapatkan dan diarahkannya ke kiblat. Kedua telapak tangan Beliau ditaruh sejajar dengan kedua bahu, terkadang sejajar dengan kedua telinga. Ketika sujud, Beliau juga menekan hidung dan dahinya ke permukaan tanah, demikian juga kedua lutut dan ujung kaki, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku diperintahkan sujud di atas tujuh anggota badan; dahi –Beliau berisyarat dengan tangannya ke hidungnya-, kedua tangan, kedua lutut dan kedua ujung kaki. Dan kami tidak diperbolehkan menarik kain dan rambut[2].” (HR. Bukhari-Muslim)

Ketika sujud, Beliau mengangkat kedua sikutnya dan tidak menidurkannya dengan menjauhkan lengan dari lambung/rusuk serta merapatkan kedua tumit sambil menghadapkan jari-jari kaki ke arah kiblat. ketika sujud Beliau membaca:

سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى

Artinya: “Maha Suci Tuhanku Yang Maha Tinggi.” .”(sebanyak 3 X atau lebih)

Beliau juga mengajarkan dzikir yang lain di samping dzikr di atas. Saat sujud, Beliau memerintahkan kita untuk memperbanyak doa, karena keadaan seseorang yang paling dekat dengan Allah Tuhannya adalah pada saat sujud. Beliau melarang kita ketika sujud membaca ayat Al Qur’an. Pada saat sujud, Beliau memerintahkan kita untuk thuma’ninah (diam sejenak setelah benar-benar sujud).

Setelah itu, Beliau bangkit dari sujud sambil bertakbir “untuk duduk di antara dua sujud’. Cara duduk Beliau adalah dengan iftirasy (yaitu kaki kanan ditegakkan dan kaki kiri ditidurkan untuk diduduki), namun terkadang cara duduk Beliau dengan cara iq’aa (yaitu duduk di atas kedua tumit dengan ditegakkan dua kaki). Ketika duduk antara dua sujud, Beliau membaca:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَعَافِنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ

Artinya: “Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, sehatkanlah aku, tunjukkanlah aku dan karuniakanlah rezeki kepadaku.”[3]

Ketika duduk di antara dua sujud, Beliau memerintahkan pula thuma’ninah. Setelah itu, Beliau bertakbir lagi untuk sujud dan melakukan hal yang sama dengan sujud pertama tadi. Lalu Beliau bertakbir untuk bangun dari sujud[4] ke rak’at selanjutnya.

Pada rak’at kedua, Beliau melakukan hal yang sama dengan rak’at pertama, dan ketika selesai dari sujud kedua, Beliau duduk tasyahhud awwal, cara duduknya dengan cara iftirasy[5] (yakni duduk di atas kaki kiri dan menegakkan kaki kanan seperti ketika duduk di antara dua sujud) dan meletakkan telapak tangan kanan di atas paha atau lutut kanan, telapak tangan kiri di atas paha atau lutut kiri[6]. Telapak tangan kiri Beliau terbuka di atas paha atau lutut kiri, Jari-jari tangan kanan digenggam semuanya[7], sedangkan jari telunjuk Beliau diangkat kemudian digerak-gerakkan ketika berdoa, serta pandangan mata tertuju ke arah jari telunjuk. Saat duduk tasyahhud, Beliau mengajarkan doa tahiyat, yaitu sbb:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيك اَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Artinya: “Segala pengagungan untuk Allah juga segala ibadah badan dan ucapan, salam atasmu wahai Nabi, serta rahmat Allah dan berkah-Nya semoga dilimpahkan kepadamu. Salam untuk kami dan untuk hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.”

‘Atha’ (seorang tabi’in) menjelaskan bahwa para sahabat mengucapkan “as Salaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu” ketika Beliau masih hidup, namun setelah Beliau wafat, mereka mengucapkan “As Salaamu ‘alan nabiyyi (wa rahmatullah…dst)”.

Pada tasyahhud awwal boleh hanya sampai doa ini saja (tahiyyat tanpa shalawat)[8], boleh juga ia tambahkan dengan shalawat. Beliau mengajarkan beberapa cara membaca shalawat kepada Beliau, di antaranya adalah:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Artinya: “Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah berikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah berikan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau maha Terpuji lagi Maha Mulia.”(HR. Bukhari-Muslim)

Di dalam membaca shalawat, Beliau tidak mengajarkan membaca “sayyidinaa”, oleh karena itu, janganlah kita menambahkannya.

Setelah selesai tasyahhud awwal, Beliau bangun sambil bertakbir dan terkadang sambil mengangkat kedua tangannya untuk menambahkan rak’atnya yang kurang. Setelah Beliau menyempurnakan rak’atnya (setelah bangun dari sujud kedua) Beliau duduk untuk tasyahhud akhir, cara duduknya adalah dengan cara tawarruk yaitu dengan dikedepankan kaki kirinya dan ditegakkan kaki kanannya (terkadang Beliau menidurkannya) sambil duduk dengan pinggul yang kiri.

Beliau membaca hal yang sama seperti tasyahhud awwal (yaitu membaca tahiyyat), dan di tasyahhud akhir kita diwajibkan membaca shalawat. Selesai membaca shalawat, Beliau mengajarkan kita untuk berdoa dengan doa berikut:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ.

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab jahannam, dari azab kubur, dari cobaan hidup dan mati serta dari keburukan cobaan Al Masih Ad Dajjal.”

Di waktu ini (sebelum salam), kita dianjurkan berdoa, karena waktu tersebut termasuk waktu mustajab, dan lebih baik lagi apabila doanya diambil dari As Sunnah seperti:

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْماً كَثِيْراً وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِيْ، إِنَّكَ أَنْتَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain-Mu, maka ampuni aku dengan ampunan dari sisi-Mu, sayangi aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Setelah itu, Beliau mengucapkan salam ke kanan “As Salaamu ‘alaikum wa rahmatullah” Hingga nampak pipi Beliau, demikian juga salam ke kiri.

Beliau melarang kita berisyarat dengan tangan ketika salam.

Ibrahim An Nakha’iy berkata: “Wanita dalam shalatnya melakukan hal yang sama dilakukan oleh laki-laki.”.

Marwan bin Musa

Maraaji’: Talkhis Shifat shalatin Nabi (Syaikh Al Albani), Shifat Shalatin Nabi (syaikh Al Albani), Al Wajiz (Abdul ‘Azhim bin Badawi), Subulus Salam, Shifat shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz) dll.


[1] Yakni jika sebagai imam atau munfarid (shalat sendiri). Adapun bagi makmum, cukup dengan sutrahnya imam.

[2] Maksud menarik adalah mengangkat atau menggulungnya agar tidak tersentuh tanah, hal itu dilarang karena mirip dengan orang-orang yang sombong. Larangan ini berlaku baik di dalam shalat maupun ketika hendak memulai shalat.

[3] Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud (850). Dalam beberapa riwayat ada beberapa tambahan terhadap dzikr ini, kita bisa memakainya, dan ada juga yang lebih pendek, yaitu “Rabbighfirliy” 2X (HR. Ibnu Majah dengan sanad hasan).

[4] Dianjurkan ia duduk sebentar/duduk istirahat (HR. Bukhari dan Abu Dawud), lalu bangkit ke rak’at berikutnya sambil bersandar ke lantai dengan kedua tangannya (HR. Abu Ishaq Al Harbiy dengan sanad yang shalih, semakna dengan riwayat Baihaqi dengan sanad yang shahih)..

[5] HR. Abu Dawud dan Baihaqi dengan sanad jayyid. Beliau juga duduk dengan cara iftirasy pada shalat yang berjumlah dua rak’at seperti shalat Shubuh (HR. Nasa’i dengan sanad yang shahih).

[6] HR. Muslim dan Abu ‘Uwanah. Dan dalam riwayat Abu Dawud dan Nasa’i dengan sanad yang shahih disebutkan bahwa Beliau meletakkan ujung sikut kanan di atas paha kanan.

[7] HR. Muslim dan Abu ‘Uwanah. Ada tiga cara dalam melipat jari telapak tangan ketika tasyahhud: cara pertama adalah seperti diterangkan di atas (yakni dilipat semua jari), cara kedua adalah dengan membuat lingkaran 53, yakni dengan menjadikan ibu jari terbuka (tidak dibuat lingkaran) di bawah telunjuk (HR. Muslim), sedangkan cara ketiga adalah dengan membuat lingkaran antara ibu jari dengan jari tengah (HR. Ibnu Majah).

[8] Ibnu Mas’ud berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dua rak’at pertama (tasyahhud awwal) duduknya seperti duduk di atas batu yang panas.” (HR. Ahmad dan para pemilik kitab Sunan). Tirmidzi berkata: “Hadits hasan, hanyasaja Ubaidah tidak mendengar dari bapaknya (Ibnu Mas’ud)”, ia juga berkata: “Demikianlah yang diamalkan di kalangan ahli ilmu, mereka lebih memilih hendaknya seseorang tidak terlalu lama pada dua rak’at; yakni tidak lebih dari tasyahhud saja.”

بسم الله الرحمن الرحيم

Menggapai Khusyu dalam Shalat 

Khusyu artinya hudhuurul qalbi wa sukuunul arkaan (hadirnya hati dan diamnya anggota badan). Khusyu adalah ruh shalat; semakin tinggi tingkat kekhusyuan seseorang, maka semakin besar pula pahala yang akan didapat dari shalatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

“Sesungguhnya seseorang jika selesai shalat, maka (pahala) shalat yang dicatat  untuknya hanyalah sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga dan setengahnya.” (HR. Abu Dawud)

Cukuplah tentang keutamaan khusyu dengan pujian yang diberikan Allah kepada mereka yang khusyu (lih. Al Israa’: 107-109), di samping pernyataan dari-Nya bahwa merekalah orang-orang yang beruntung:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,–(yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya.” (terj. Al Mu’minun: 1-2)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

« مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلاَةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ »

“Tidak ada seorang muslim yang pada saat shalat fardhu tiba, ia memperbagus wudhu’, khusyu dan ruku’nya kecuali hal itu akan menjadi kaffarat (penebus) dosa sebelumnya selama ia tidak mengerjakan dosa-dosa besar, dan hal itu berlangsung dalam setahun penuh.” (HR. Muslim)

Bagaimana jika terlintas di fikiran masalah yang tidak terkait dengan shalat?

Dalam shalat, kekhusyuan (yakni hadirnya hati) harus ada meskipun hanya sebentar, kalau tidak ada sama sekali, maka bisa batal shalatnya. Oleh karena itu, boleh saja ketika shalat terlintas di pikirannya masalah lain yang tidak terkait dengan shalat asalkan ketika ingat ia segera kembali memperhatikan shalatnya. Hal ini karena ketika seseorang shalat, setan akan datang menggodanya dengan mengingatkan masalah-masalah lain di luar shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى

“Apabila azan shalat dikumandangkan, maka setan akan lari menjauh sampai buang angin sehingga ia tidak mendengar suara azan. Setelah azan selesai dikumandangkan, ia pun datang lagi. Kemudian apabila iqamat dikumandangkan setan pun lari menjauh. setelah iqamat selesai, ia datang lagi lalu membisikkan dalam diri seseorang, “Ingatlah masalah ini! Ingatlah masalah itu!” Padahal sebelumnya ia tidak ingat. Akibatnya seseorang shalat tidak ingat lagi berapa rak’at yang sudah dikerjakannya.” (HR. Muslim)

Hukum bergerak ketika shalat

Bergerak ketika shalat adalimahukum; wajib, sunat, haram, makruh dan mubah. Berikut ini perinciannya:

Pertama, bergerak yang wajib, yaitu jika tidak bergerak mengakibatkan shalatnya batal.

Misalnya tanpa disadari seseorang shalat memakai sandal yang terkena najis, ketika sedang melakukan shalat tiba-tiba ada yang memberitahukan bahwa sandalnya terkena najis, dalam kondisi seperti ini ia wajib bergerak untuk melepaskan sandalnya, jika tidak maka akan batal shalatnya.

Dalilnya adalah hadits berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: بَيْنَمَا رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ، فَلَمَّا قَضَى رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ: “مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَائِكُمْ نِعَالَكُمْ”؟ قَالُوْا: رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ جِبْرِيْلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيْهِمَا قَذَراً” أَوْ قَالَ أَذًى، وَقَالَ: “إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلىَ الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ، فَإِِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَراً أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيْهِمَا”.

Dari Abu Sa’id Al Khudriy, dia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para sahabatnya, tiba-tiba Beliau melepas kedua sandalnya dan menaruhnya di sebelah kiri. Saat para sahabat melihatnya, mereka pun ikut melepas sandalnya. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, Beliau bertanya, “Mengapa kalian melepas sandal kalian?”Parasahabat menjawab, “Kami melihat engkau melepas sandalmu, maka kami pun ikut melepasnya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Sesungguhnya Jibril datang kepadaku memberitahukan bahwa pada kedua sandal ini ada najis –atau mengatakan “ada kotoran”-. kemudian Beliau bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu datang ke masjid, maka lihatlah (sandalnya), jika dilihatnya ada kotoran atau najis maka gosok-gosokkanlah (ke tanah), setelah itu shalatlah dengan memakainya.” (HR. Abu Dawud dan lain-lain, lih. Shifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Dalam hadits ini terdapat banyak hukum, di antaranya; bahwa sandal yang terkena najis bisa menjadi suci dengan digosok-gosokkan ke tanah hingga hilang najisnya, dan jika kita terkena najis atau kaki kita menginjak najis, hal itu tidaklah membatalkan wudhu, akan tetapi kita harus membersihkannya ketika hendak shalat baik menimpa badan maupun pakaian.

Dalil tentang bergerak yang wajib ini disebutkan juga dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu berikut:

“Ketika orang-orang sedang shalat Subuh di Quba’, tiba-tiba datang seseorang sambil berkata, “Sesungguhnya semalam telah diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Al Qur’an, Beliau diperintahkan untuk menghadap ka’bah, maka menghadaplah ke arahnya”, sebelumnya mereka menghadap ke Syam, seketika itu juga mereka berputar menghadap ke arah ka’bah.” (HR. Bukhari)

Kedua, bergerak yang sunat, yaitu gerakan yang apabila dilakukan ia mendapatkan keutamaan.

Misalnya ketika shalat berjama’ah, salah seorang makmum batal, lalu mundur ke belakang, sehingga ada celah dalam shaf. Nah, bagi makmum yang lain boleh mengisi celah dalam shaf itu dengan maju ke depan, di mana shaf terdepan jelas lebih utama, dibanding shaf setelahnya.

Ketiga, bergerak yang makruh, yaitu gerakan yang dilakukan tanpa ada keperluan.

Misalnya, ketika shalat ia melihat jam tangan dsb. Hal ini adalah makruh karena mengurangi kekhusyuan, karena arti khusyu adalah hadirnya hati dan diamnya anggota badan

Keempat, bergerak yang haram, yaitu gerakan yang banyak tanpa ada keperluan.

Misalnya, ketika shalat seseorang banyak bergerak kesana kemari tanpa ada keperluan, dan bisa batal shalatnya jika terus-menerus dilakukannya pada setiap rak’at.

Kelima, bergerak yang mubah, yaitu gerakan yang dilakukan karena ada keperluan, meskipun membutuhkan banyak gerakan.

Misalnya seorang ibu shalat dengan membawa anaknya, pada saat shalat anaknya menangis, maka bagi ibu tidak mengapa bergerak untuk menggendong anaknya, atau misalnya ketika seseorang shalat terdengar suara handphonenya, maka tidak mengapa ia mematikan handphonenya ketika shalat.

Contoh lainnya adalah ketika seseorang shalat ada kalajengking atau ular lewat, maka tidak mengapa dia membunuhnya meskipun membutuhkan banyak gerakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اُقْتُلُوا اَلْأَسْوَدَيْنِ فِي اَلصَّلَاةِ : اَلْحَيَّةَ, وَالْعَقْرَبَ

“Bunuhlah dua binatang hitam dalam shalat; yaitu ular dan kalajengking.” (HR. Empat orang ahli hadits dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Cara menggapai khusyu

Adabeberapa cara untuk menggapai kekhusyuan, yaitu:

  1. Berusaha melakukan hal yang membantu  dan memperkuat kekhusyuan.
  2. Menjauhkan segala macam kesibukan dan penghalang yang memalingkan dari khusyu.

Hal-hal yang membantu kekhusyuan di antaranya adalah:

-  Membuktikan kesiapan untuk shalat, misalnya menjawab panggilan azan, berdoa setelah azan, menyempurnakan wudhu’nya, berhias untuk shalat, segera berangkat ke masjid (tanpa terburu-buru), berjalan ke masjid dengan tenang dan menampakkan sikap yang sopan, meluruskan dan merapatkan shaf dsb.

-  Berthuma’ninah ketika shalat (tidak cepat-cepat).

-  Mengingat maut.

-  Mentadabburi (memikirkan) ayat-ayat yang dibaca, demikian juga dzikr-dzikr dalam shalatnya. Untuk dapat mentadabburi ayat-ayatnya adalah dengan membacanya ayat-perayat.

-  Membaca ayat Al Qur’an dengan tartil dan dengan suara yang bagus.

-  Membaca isti’adzah/ta’awwudz sebelum membacasuratAl Fatihah.

-  Mengetahui bahwa Allah menjawab ucapannya ketika membacasuratAl Fatihah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ) . قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ ( الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ) . قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى . وَإِذَا قَالَ ( مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ) . قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى – فَإِذَا قَالَ ( إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ) . قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ ….

  Allah Ta’ala berfirman: “Aku membagi shalat antara-Ku dengan hamba-Ku dua bagian dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta. Apabila seorang hamba mengucapkan “Al Hamdu lillahi Rabbil ‘aalamiin”, Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku telah memuji-Ku”, jika dia mengatakan “Ar Rahmaanir Rahiim”, Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku telah menyanjung-Ku”. Jika dia mengucapkan “Maaliki yaumiddin”, Allah berfirman, “Hamba-Ku memuliakan-Ku” –sesekali Dia berfirman, “Hamba-Ku telah menyerahkan (urusannya) kepada-Ku”. Dan jika dia mengucapkan “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin” Allah berfirman, “Inilah bagian antara Aku dengan hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta….” (HR. Muslim)

-  Shalat memakai sutrah dan mendekat kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا وَلَا يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ

   “Apabila salah seorang di antara kamu shalat, maka shalatlah dengan memakai sutrah/penghalang, mendekatlah kepadanya dan jangan biarkan seseorang lewat di hadapannya.” (HR. Ibnu Majah)

Bagi imam dan orang yang shalat sendiri diperintahkan untuk memakai sutrah (penghalang agar tidak dilewati orang lain, baik berupa balok, tiang, dinding, orang yang sedang duduk dsb.) di depannya. Tinggi sutrah minimal setinggi kayu cagak kendaraan (berdasarkan riwayat Muslim) atau kira-kira sejengkal lebih. Jika imam sudah memakai sutrah maka makmum tidak perlu memakai sutrah. Hukum memakai sutrah menurut sebagian ulama adalah sunnah mu’akkadah (yang ditekankan), ulama yang lain berpendapat hukumnya wajib. Oleh karena itu, hendaknya seseorang tidak meninggalkannya.

Di antara hikmah memakai sutrah adalah untuk membatasi pandangan kita agar mata kita tidak melihat ke mana-mana sehingga menimbulkan banyak pikiran.

-  Menghadapkan pandangan ke tempat sujud.

-  Membacasuratatau dzikr yang lain yang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (tidak hanya satu macam saja)

-  Mengetahui keutamaan khusyu.

-  Bersungguih-sungguh dalam berdoa, khususnya ketika sujud.

Sedangkan hal-hal yang memalingkan kekhusyuan di antaranya:

-   Tempat shalat dan pakaian shalatnya terdapat ukiran atau corak yang mencolok.

-   Suara keras di dekatnya. Oleh karena itu tidak dibenarkan mengeraskan suara ketika ada yang sedang shalat seperti yang dilakukan sebagian orang, yaitu melantunkan sya’ir-sya’ir antara azan dan iqamat dengan pengeras suara.

-   Menahan buang air besar/kecil.

-   Makanan sudah dihidangkan sedangkan dirinya lapar.

-   Mengantuk berat.

-   Melakukan shalat di dekat orang yang sedang bercakap-cakap dan orang yang sedang tidur.

-   Menyibukkan diri meratakan/membersihkan pasir yang ada di tempat sujud. Oleh karena itu, sebaiknya sebelum shalat ia meratakan/membersihkan pasir-pasirnya.

-   Memandang ke arah langit.

-   Meludah ke bagian kiblat atau kanannya.

-   Tidak menahan nguapnya.

-   Bercekak pinggang.

-   Menoleh ketika shalat.

Marwan bin Musa

Maraaji’: Shifat Shalatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Syaikh Al Albani), Min Ahkaamish shalaah (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin), 33 sababan lil khusyu fish shalaah (Syaikh M. bin Shalih Al Munajjid), ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud.

بسم الله الرحمن الرحيم

Mengqashar Shalat Bagi Musafir

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya semua. Amma ba’du:

Di antara kemudahan Islam adalah pensyariatan mengqashar shalat bagi musafir (orang yang bepergian jauh).

Mengqashar artinya mengurangi jumlah rakaat yang sebelumnya empat rakaat menjadi dua rakaat.

Dalil disyariatkan mengqashar shalat adalah Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’. Dalam Al Qur’an, Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

#sŒÎ)ur ÷Läêö/uŽŸÑ ’Îû ÇÚö‘F{$# }§øŠn=sù ö/ä3ø‹n=tæ îy$uZã_ br& (#rçŽÝÇø)s? z`ÏB Ío4qn=¢Á9$# ÷bÎ) ÷LäêøÿÅz br& ãNä3uZÏFøÿtƒ tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. 4

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidak mengapa kamu mengqashar shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir.” (An Nisaa’: 101)

Dari Ya’la bin Umayyah, bahwa ia pernah bertanya kepada Umar bin Khaththab tentang ayat ini, “Jika kamu takut diserang orang-orang kafir,”sedangkan manusia telah berada dalam keamanan, maka Umar menjawab, “Aku juga heran seperti kamu heran, lalu aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya, maka Beliau bersabda:

صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ

“Itu adalah sedekah yang disedekahkan Allah kepadamu, maka terimalah sedekah itu.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasa’I, Ibnu Majah dan Tirmidzi)

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

الصَّلَاةُ أَوَّلُ مَا فُرِضَتْ رَكْعَتَيْنِ فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلَاةُ الْحَضَرِ

“Shalat pertama kali diwajibkan adalah dua rakaat, lalu ditetapkan untuk shalat safar dan disempurnakan (ditambah) untuk shalat hadhar (tidak safar).” (HR. Bukhari dan Muslim. Bukhari menambahkan, “Kemudian Beliau berhijrah, lalu diwajibkan menjadi empat rakaat, sedangkan shalat safar ditetapkan seperti pertama (dua rakaat).” Imam Ahmad menambahkan, “Kecuali shalat Maghrib, karena ia adalah witir di waktu siang, dan kecuali shalat Subuh, karena bacaan ketika itu panjang.”)

Hadits di atas menunjukkan wajibnya mengqashar shalat ketika safar. Inilah yang dipegang oleh ulama madzhab Hadawi, madzhab Hanafi dan lainnya. Adapun Imam Syafi’i dan jamaah dari kalangan ulama berpendapat, bahwa qashar merupakan rukhshah, sedangkan menyempurnakan adalah lebih utama, mereka berdalih dengan firman Allah Ta’ala, “maka tidak mengapa kamu mengqashar shalat(mu),”

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Sesungguhnya aku menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam safar, maka Beliau tidak menambah melebihi dua rakaat sampai Allah mewafatkannya. Demikian pula aku menemani Abu Bakar, maka dia tidak menambah melebihi dua rakaat sampai Allah mewafatkannya…dst.” Ibnu Umar juga menyebutkan Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhuma. (HR. Muslim)

Ibnul Qayyim berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengqasahar shalat yang empat rakaat dengan mengerjakannya dua rakaat dari sejak Beliau keluar sebagai musafir hingga kembali ke Madinah, dan tidak sah sama sekali dari Beliau bahwa Beliau menyempurnakan shalat yang berjumlah empat rakaat.”

Adapun dalil ijma’, maka qashar termasuk perkara yang sangat maklum dalam agama, dan umat telah sepakat terhadap (pensyariatan)nya. Dengan demikian, menjaga Sunnah ini (mengqashar shalat) dan mengambil rukhshah ini lebih patut dan lebih utama daripada meninggalkannya, bahkan sebagian ahli ilmu berpendapat makruh menyempurnakan shalat yang empat rakaat ketika safar. Hal itu, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat melazimi Sunnah ini, dan bahwa hal itu merupakan petunjuk yang senantiasa berlanjut (Lihat Al Fiqhul Muyassar hal. 88).

I. Jarak boleh mengqashar Shalat

Paraulama berbeda pendapat tentang batasan jarak seseorang boleh mengqashar shalat dengan perbedaan pendapat yang banyak, sampai-sampai Ibnul Mundzir dan lainnya menukilkan lebih dari dua puluh pendapat tentang masalah ini. Namun yang rajih adalah bahwa tidak ada dasar untuk batasannya, selain yang disebut sebagai safar  (perjalanan jauh) dalam bahasa Arab yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara menggunakannya. Hal itu, karena jika ada batasan untuk ukuran safar selain yang kita sebutkan, tentu Beliau tidak akan lalai menerangkannya sama sekali, demikian pula para sahabat juga tidak akan lalai menanyakannya, dan tentu mereka tidak akan sepakat meninggalkan penukilan batasannya kepada kita (lihat Al Muhalla 5/21).

Namun Jumhur (mayoritas) ulama menentukan jarak seseorang boleh mengqashar shalat yaitu 4 barid/16 farsakh (1 barid = 12 mil[1]), sehingga 4 barid = 76800 m/76,8 km. Mereka memperkirakan jarak safar yang biasa dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau seseorang berpegang dengan pendapat jumhur, sehingga tidak mengqashar kecuali setelah menempuh perjalanan 76,8 KM (atau 80 km), maka tidak mengapa.

Ibnu Abbas dan Ibnu Umar melakukan qashar dan berbuka puasa dalam perjalanan 4 barid, yaitu 16 farsakh.

Menurut kebanyakan ulama, untuk safar yang haram (seperti safar untuk maksiat) tidak diperbolehkan mengqashar shalat.

II. Tempat mulai mengqashar shalat

Jumhur ulama berpendapat, bahwa mengqashar shalat disyariatkan setelah meninggalkan hadhar (tempat pemukimannya) dan keluar dari kotanya[2], dan bahwa hal itu merupakan syarat, dan tidak menyempurnakan shalatnya (menjadi 4 rakaat) sampai ia memasuki awal rumah-rumah(yang ada di kota)nya. Ibnul Mundzir berkata, “Aku tidak mengetahui, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengqashar (shalat) dalam salah satu safarnya kecuali setelah keluar dari Madinah.” Anas berkata, “Aku shalat Zhuhur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah empat rakaat, dan di Dzulhulaifah dua rakaat (shalat Ashar).” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i)

Namun sebagian kaum salaf ada yang berpendapat, bahwa barang siapa yang berniat safar, maka ia boleh mengqashar meskipun di rumahnya (lihat Fiqhus Sunnah di Bab Shalaatul Musaafir). Tetapi yang rajih –insya Allah- adalah pendapat jumhur ulama di atas, wallahu a’lam.

III. Kapankah seseorang menyempurnakan shalatnya?

Seorang musafir tetap mengqashar shalat selama sebagai musafir. Jika ia berdiam karena suatu keperluan yang ia tunggu selesainya, maka ia tetap mengqashar shalat karena ia dianggap musafir meskipun berdiam lama. Hal ini berdasarkan hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

أَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِتَبُوكَ عِشْرِينَ يَوْمًا يَقْصُرُ الصَّلَاةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Tabuk selama dua puluh hari mengqashar shalat.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Abi Dawud 1094).

Ibnul Qayyim berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bersabda kepada umat, seseorang tidak boleh mengqashar shalat apabila tinggal lebih dari sejumlah hari itu, akan tetapi telah disepakati bahwa tinggalnya Beliau adalah sejumlah hari itu.”

Ibnul Mundzir berkata, “Paraulama sepakat, bahwa musafir mengqashar shalat selama tidak berniat mukim.”

Namun apabila ia berniat mukim, maka ia sempurnakan shalatnya setelah lewat 19 hari sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut:

أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَةَ عَشَرَ يَقْصُرُ فَنَحْنُ إِذَا سَافَرْنَا تِسْعَةَ عَشَرَ قَصَرْنَا وَإِنْ زِدْنَا أَتْمَمْنَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berdiam (dalam safar) selama sembilan belas hari, maka Beliau mengqashar shalat. Kami pun sama, apabila bersafar selama sembilan belas hari, kami mengqashar shalat. Tetapi, apabila kami lebih dari itu, maka kami sempurnakan.” (HR. Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Abu Dawud, namun dalam riwayat Abu Dawud disebutkan ‘tujuh belas hari’.)

Tetapi menurut Ibnul Qayyim bahwa berniat mukim tidaklah mengeluarkannya dari hukum safar, baik safarnya lama atau sebentar selama ia tidak menjadikan tempat yang disinggahi itu sebagai tempat tinggalnya, wallahu a’lam.

IV. Shalat sunnah ketika safar

Ibnul Qayyim pernah berkata, “Termasuk tuntunan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam  dalam safarnya adalah hanya melakukan shalat fardhu saja, dan tidak ada riwayat bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat sunnah sebelum shalat fardhu maupun setelah shalat fardhu (shalat sunnah rawaatib), kecuali shalat sunnah witir dan shalat sunnah sebelum shalat fajar, kedua shalat itu tidak pernah ditinggalkan Beliau baik ketika tidak safar (hadhar) maupun ketika safar.”[3]

V. Berlakunya qashar untuk semua musafir

Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazaa’iriy dalam Minhaajul Muslim berkata, “Tidak ada bedanya dalam hal disunnahkan qashar baik yang bersafar dengan berkendaraan maupun berjalan kaki, baik yang berkendaraan hewan maupun yang berkendaraan mobil atau pesawat. Hanyasaja, bagi pelaut jika jarang turun dari perahunya sepanjang tahun, dan ia memiliki keluarga di perahunya, maka tidak disunnahkan mengqashar shalat, bahkan hendaknya ia menyempurnakan, karena ia seperti orang yang menjadikan perahu sebagai tempat tinggalnya.”

VI. Jika musafir sebagai Imam

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa ia ketika datang ke Mekah, shalat mengimami mereka dua rakaat, lalu ia berkata (setelah shalat), “Wahai penduduk Mekah! Sempurnakanlah shalatmu karena kami orang-orang yang sedang safar.” (HR. Malik, Imam Syaukani berkata, “Atsar Umar (ini) para perawi isnadnya adalah para imam yang tsiqah.”)

VII. Keadaan dimana musafir wajib menyempurnakan shalat

Adabeberapa keadaan yang dikecualikan bagi musafir untuk mengqashar shalat ketika safar, yaitu:

  1. Apabila musafir bermakmum kepada yang mukim. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Innamaa ju’ilal imaamu liyu’tamma bih.” (Imam itu dijadikan untuk diikuti). Demikian pula berdasarkan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ketika ia ditanya tentang menyempurnakan shalat di belakang orang yang mukim, “Itu adalah sunnah Abil Qaasim (Rasulullah) shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Irwaa’ no. 571). Baik ia mendapatkan shalat dari awalnya, satu rakaat saja maupun ia hanya mendapatkan tasyahhud akhir bersama orang yang mukim.
  2. Ketika musafir melakukan shalat; yang wajib dilakukan secara sempurna, lalu ia batal dan mengulangi shalatnya. Misalnya, seorang musafir shalat di belakang orang yang mukim, dimana dalam hal ini ia wajib menyempurnakan shalat menjadi empat rakaat, lalu shalatnya batal, maka ketika dia mengulangi, ia wajib mengulangi secara sempurna (empat rakaat), karena itu merupakan pengulangan terhadap shalat yang sempurna.
  3. Jika ia bermakmum kepada orang yang ia masih ragu-ragu apakah imamnya itu sebagai musafir atau mukim, seperti di bandara dsb. maka ia wajib melakukan shalat secara sempurna, karena untuk mengqashar shalat harus ada niat yang jazim (pasti), adapun jika masih ragu-ragu, maka ia menyempurnakan.
  4. Jika musafir berniat mukim secara mutlak (tanpa dibatasi waktu atau pekerjaan tertentu) atau menjadikan tempat yang disinggahinya sebagai tempat tinggal, maka ia wajib menyempurnakan shalatnya, karena telah terputus hukum safar baginya. Tetapi apabila ia membatasi safarnya dengan waktu tertentu atau pekerjaan tertentu, maka ia sebagai musafir yang mengqashar shalat (Lihat Al Fiqhul Muyassar hal. 90-91).

Di samping mengqashar shalat. Musafir juga diperbolehkan menjama’ shalat sebagaimana akan diterangkan nanti dalam pembahasan khusus tentang menjama’ shalat, insya Allah.

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraaji’: Al Maktabatusy Syaamilah, Al Wajiiz (Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi), Al Mulakhkhas Al Fiqhi (Syaikh Shalih Al Fauzan), Al Fiqhul Muyassar, Minhaajul Muslim (Syaikh Abu Bakar Al Jazaa’iriy), Shalaatul Musaafir (Dr. Sa’id Al Qahthani), Al Mukhtashar min Ahkaamis safar (Syaikh Fahd Al ‘Ammariy) dll.


[1] 1 mil = 1600 m, sedangkan 1 farsakh adalah 4800 m (tiga mil).

[2] Dengan berpisah badan. Oleh karena itu, tidak disyaratkan dalam berpisah itu harus tidak melihat rumah-rumah, bahkan cukup berpisah badan.” (Asy Syarhul Mumti’ 4/512)

[3] Namun, tidak mengapa bagi musafir melakukan shalat sunnah yang lain dan melakukan shalat dzwaatul asbaab (shalat yang memiliki sebab) seperti shalat Dhuha, shalat sunnah setelah wudhu’, shalat kusuf, shalat tahiyyatul masjid ketika masuk masjid, demikian juga melakukan sujud tilawah (karena membaca ayat sajadah), Sebagaimana dijelaskan Syaikh Ibnu Baz dalam fatawanya. Dalilnya adalah sbb:

-    دليل ركعتي الفجر عندما نام الرسول e في السفر ولم يستيقظ إلا على حرِّ  الشمس قال أبو قتادة ( ثم أذن بلال بالصلاة فصلى رسول الله ركعتين ثم صلى الغداة فصنع كما يصنع كل يوم ) رواه مسلم .

-    ودليل الضحى ما ورد عن أنس  tقال : رأيت رسول الله  e صلى في السفر سبحة الضحى ثمان ركعات (قال الحافظ في الفتح رواه أحمد وصححه ابن خزيمة والحاكم 3/68 .) وحديث أم هانئ في قصة اغتساله e يوم فتح مكة ( ثم صلى ثمان ركعات سبحة الضحى )رواه مسلم

-    ودليل قيام الليل قالe : ( ثلاثة يحبهم الله _ وذكر منهم _ قوم ساروا ليلهم حتى إذا كان النوم أحب إليهم مما يعدل به فوضعوا رؤوسهم قام يتملقني ويتلو آياتي ) وفي رواية( والقوم يسافرون فيطول سراهم حتى يحبوا أن يمسوا الأرض فينزلون فيتنحى أحدهم فيصلي حتى يوقظهم لرحيلهم ) رواه الترمذي والنسائي وابن خزيمة وابن حبان والطبراني والبهقي والبزاروغيرهم وضعف الألباني الرواية الأولى في الجامع برقم2610.وصحح الثانية في الجامع برقم3074 ورواها أحمد .(نقلا من المختصر من أحكام السفر للشيخ فهد بن يحيى العماري)

بسم الله الرحمن الرحيم

Menjama’ Shalat

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya semua. Amma ba’du:

Berikut ini merupakan penjelasan tentang menjama’ shalat agar diketahui oleh kita bersama, sehingga kita dapat mempraktekkannya pada tempat-tempatnya dan tidak begitu gampang menjama’ shalat ketika bukan pada tempatnya, semoga Allah Subhaanahu wa Ta’aala menjadikan risalah ini bermanfaat, Allahumma aamiin.

Menjama’ shalat

Jama’ artinya menggabungkan dua shalat dalam satu waktu. Jika di waktu shalat pertama disebut Jam’ut taqdim dan jika di waktu shalat kedua disebut Jam’ut ta’khir.

Shalat yang bisa dijama’ adalah shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya.

Menjama’ shalat dibolehkan dalam keadaan-keadaan berikut:

  1. Ketika safar

Dalilnya adalah hadits berikut:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعَصْرِ وَفِي الْمَغْرِبِ مِثْلُ ذَلِكَ إِنْ غَابَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَإِنْ يَرْتَحِلْ قَبْلَ أَنْ تَغِيبَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَنْزِلَ لِلْعِشَاءِ ثُمَّ جَمَعَ بَيْنَهُمَا

Dari Mu’adz bin Jabal, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berada di perang Tabuk, saat matahari tergelincir (sudah tiba waktu Zhuhur) sebelum Beliau berangkat, maka Beliau menggabung antara shalat Zhuhur dengan ‘Ashar. Tetapi ketika berangkat sebelum matahari tergelincir, maka Beliau menunda shalat Zhuhur sehingga Beliau singgah untuk shalat ‘Ashar (bersama Zhuhur). Shalat Maghrib juga Beliau lakukan seperti itu; yaitu jika matahari tenggelam sebelum Beliau berangkat, maka Beliau menggabung antara shalat Maghrib dengan Isya (di waktu Isya), tetapi jika Beliau berangkat sebelum matahari tenggelam, maka Beliau menunda shalat Maghrib sehingga singgah untuk shalat Isya, lalu Beliau menggabung antara keduanya (Maghrib dengan Isya di waktu Isya). (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi, lihat Shahih Abi Dawud 1067).

Menjama’ dua shalat di salah satu waktunya boleh, baik ia dalam keadaan sudah singgah maupun dalam keadaan masih dalam perjalanan. Namun sebaiknya jika sudah singgah melakukan shalatnya pada waktunya masing-masing dan tidak menjama’ kecuali jika dibutuhkan[1].

Dalam menggabung shalat tidak disyaratkan harus berturut-turut (muwaalah) kalau pun diselangi sesuatu tidak mengapa, namun lebih utama melakukannya secara muwaalah (berturut-turut) sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Ketika hujan

Boleh menjama’ shalat Zhuhur dan ‘Ashar atau Maghrib dan ‘Isya ketika hujan (termasuk dingin yang sangat, angin kencang, jalan bersalju atau berlumpur), baik  dengan Jam’ut taqdim maupun Jam’ut ta’khir. Dalilnya adalah hadits berikut:

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ إِذَا جَمَعَ الأُمَرَاءُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ فِى الْمَطَرِ جَمَعَ مَعَهُمْ .

Dari Naafi’, bahwa Abdullah bin Umar apabila para pemimpin melakukan jama’ antara Maghrib dengan Isya ketika hujan, maka ia ikut menjama’ bersama mereka. (Shahih, HR. Malik, Al Irwa’ 3/40)

Dari Musa bin ‘Uqbah, bahwa Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menjama’ antara Maghrib dan Isya yang terakhir ketika hujan, dan sesungguhnya Sa’id bin Al Musayyib, Urwah bin Az Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman dan para syaikh zaman itu melakukan shalat bersama mereka dan tidak mengingkarinya.” (Shahih, HR. Baihaqi, Al Irwa’ 3/168,169).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Boleh menjama’ shalat karena (jalan) berlumpur banyak, angin kencang di malam yang gelap dsb. meskipun hujan tidak turun menurut pendapat yang paling shahih dari dua pendapat ulama, dan hal itu lebih baik dilakukan daripada shalat di rumahnya, bahkan meninggalkan menjama’ shalat dengan mengerjakan shalat di rumah adalah bid’ah menyelisihi sunnah, karena sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengerjakan shalat lima waktu di masjid-masjid dengan berjama’ah. Hal itu juga lebih baik daripada shalat di rumah dengan kesepakatan kaum muslimin. Shalat di masjid-masjid dengan menjama’ adalah lebih baik daripada shalat di rumah-rumah meskipun dipisah (tidak dijama’) menurut kesepakatan para imam yang membolehkan jama’ seperti Malik, Syafi’i dan Ahmad.”

Syaikh Abu Bakar Al Jazaa’iriy dalam Minhajul Muslim berkata, “Sebagaimana penduduk negeri juga boleh menjama’ Maghrib dan Isya di masjid pada malam yang hujan, dingin yang sangat atau angin (yang kencang) jika mereka kesulitan kembali untuk shalat Isya di masjid, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama’ antara shalat Maghrib dan Isya di malam yang hujan.”

Faedah:

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz pernah ditanya:

“Terkadang ketika menjama’ antara  Maghrib dan ‘Isya karena hujan, ada sebagian jamaah yang hadir (terlambat). Ketika itu, imam melakukan shalat Isya, orang-orang itu (yang datang terlambat) langsung masuk ke dalam shalat bersama imam dengan mengira bahwa ia (imam) melakukan shalat Maghrib, lalu apa sikap yang harus mereka lakukan?”

Ia menjawab, “Mereka harus duduk setelah rakaat ketiga (tidak bangkit bersama imam), membaca tasyahhud dan doa lalu melakukan salam bersama imam. Kemudian mereka lakukan shalat ‘Isya setelahnya untuk mencapai keutamaan berjamaah dan (dapat) mengerjakan shalat secara tertib dimana hal itu adalah wajib…dst.” (Dari Fataawa Muhimmah tata’allaq bish shalaah hal. 96)

  1. Karena sakit

Bagi orang yang sakit dibolehkan menjama’ Zhuhur dan ‘Ashar atau Maghrib dan ‘Isya apabila terasa berat dipisah (tidak dijama’), karena ‘illat (sebab) dibolehkan menjama’ adalah masyaqqah (kesulitan), apabila ada kesulitan maka boleh menjama’.  Hal ini berdasarkan perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Beliau bermaksud untuk tidak menyulitkan umatnya.”

Menjama’ ketika sakit bisa dengan jama’ taqdim maupun ta’khir, namun sebaiknya ia melakukan jama’ shuuriy yaitu dengan shalat Zhuhur di akhir waktu dan shalat ‘Ashar di awal waktu serta shalat maghrib di akhir waktu dan shalat ‘isya di awal waktu. (ini disebut jama’ shuuwriy) sehingga ia tetap shalat pada waktunya.

Termasuk dalam hal ini adalah orang yang beser, orang yang menyusui yang kerepotan, orang yang terluka dimana darahnya tidak berhenti-berhenti atau orang yang mimisan (selalu keluar darah dari hidung), juga sakit lainnya yang jika dikerjakan shalat tanpa dijama’ shuwriy akan mengakibatkan kepayahan yang sangat dan lemah[2].

  1. Menjama’ Ketika di ‘Arafah dan Muzdalifah

Para ulama sepakat bahwa menjama’ shalat Zhuhur dan ‘Ashar ketika di ‘Arafah dengan jam’ut taqdim (di waktu Zhuhur) di mana setelahnya ia wuquf, dan menjama’ shalat Maghrib dan ‘Isya dengan jam’ut ta’khir (di waktu ‘Isya) di Muzdalifah adalah sunnah (yang tidak ada pilihan lain selainnya). Hal ini beradasarkan riwayat yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Beliau shalat Zhuhur dan ‘Ashar di Arafah dengan satu kali azan dan dua iqamat, dan ketika Beliau mendatangi Muzdalifah, maka Beliau shalat Maghrib dan Isya di sana dengan satu kali azan dan dua iqamat (HR. Abu Dawud (1906)).

  1. Kebutuhan mendesak

Dalilnya adalah hadits berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا سَفَرٍ قَالَ أَبُو الزُّبَيْرِ فَسَأَلْتُ سَعِيدًا لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ كَمَا سَأَلْتَنِي فَقَالَ أَرَادَ أَنْ لَا يُحْرِجَ أَحَدًا مِنْ أُمَّتِه

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Zhuhur dan ‘Ashar dengan dijama’ di Madinah bukan karena khawatir (sesuatu) maupun safar.” Abuz Zubair berkata: Aku pun bertanya kepada Sa’id, “Mengapa Beliau melakukan hal itu?” Ia menjawab: Aku juga bertanya kepada Ibnu ‘Abbas seperti yang engkau tanyakan, maka ia menjawab, “Beliau bermaksud untuk tidak menyulitkan umatnya.” (HR. Muslim)

Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (5/219) berkata, “Jamaah dari kalangan imam berpendapat bolehnya menjama’ shalat ketika tidak safar karena dibutuhkan, bagi orang yang tidak menjadikannya sebagai kebiasaan. Ini adalah pendapat Ibnu Sirin dan Asyhab dari kalangan kawan Imam Malik. Al Khaththabiy menceritakan dari Al Qaffal, Asy Syaasyi Al Kabir dari kalangan kawan Imam Syafi’i dari Abu Ishaq Al Marwaziy dari jamaah Ahli Hadits, dan hal itu dipilih oleh Ibnul Mundzir. Hal ini juga diperkuat oleh perkataan Ibnu Abbas, “Beliau bermaksud untuk tidak menyulitkan umatnya.” Ia tidak menyebutkan alasannya karena sakit atau lainnya, wallahu a’lam.”

Faedah/catatan:

Menurut pendapat yang rajih, tidak bisa dijama’ antara shalat Jum’at dengan shalat ‘Ashar. namun kalau seorang musafir shalat Zhuhur (karena tidak wajib baginya shalat Jum’at) maka boleh menjama’ dengan ‘Ashar.

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraaji’: Al Wajiiz (Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi), Al Malkhas Al Fiqhi (Syaikh Shalih Al Fauzan), Al Fiqhul Muyassar, Fiqhus Sunnah (Syaikh Sayyid Saabiq), dll.


[1] Ibnul Qayyim dalam Al Hadyu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak selalu menjama’ dalam safarnya seperti yang dilakukan kebanyakan manusia, Beliau juga tidak menjama’ ketika singgahnya. Beliau hanyalah menjama’ ketika perjalanan berat dan ketika berangkat sehabis shalat sebagaimana dalam hadits-hadits perang Tabuk…dst.”

[2] Termasuk juga boleh menjama’ orang yang mengkhawatirkan akan tertimpa sesuatu (seperti bahaya)  terhadap dirinya, hartanya dan kehormatannya jika tidak dijama’.

بسم الله الرحمن الرحيم

Shalat Gerhana

Beberapa kali terjadi gerhana –meskipun jarang-jarang-, namun sangat disayangkan banyak kaum muslimin yang meremehkan sunnah yang mulia ini. Oleh karena itu, pada risalah ini akan dijelaskan betapa pentingnya shalat gerhana sekaligus praktek shalat gerhana.

Ta’rif Kusuf dan Khusuf

Gerhana matahari dalam bahasa Arab disebut Kusuf, sedangkan gerhana bulan disebut khusuf. Hal ini, jika kusuf dan khusuf disebutkan secara bersamaan, namun jika kusuf atau khusuf disebutkan secara terpisah, maka kusuf bisa digunakan untuk gerhana matahari maupun gerhana bulan, demikian juga kata “khusuf”.

Gerhana matahari dan bulan merupakan tanda kekuasaan Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا » .

“Sesungguhnya matahari dan bulan tidaklah terjadi gerhana karena kematian seseorang dan bukan pula karena lahirnya seseorang. Akan tetapi, keduanya merupakan dua tanda di antara tanda-tanda (kekuasaan) Allah. Apabila kalian melihatnya, maka laksanakanlah shalat.” (HR. Bukhari)

Al Haafizh menjelaskan tentang maksud “tanda” di hadits tersebut, yaitu sebagai tanda keesaan Allah, tanda kekuasaan Allah sekaligus untuk menakuti hamba-hamba-Nya terhadap siksaan Allah dan azab-Nya. Ia pun menguatkan hal tersebut dengan ayat:

“Dan Kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (Terj. Al Israa’: 59)

Dengan demikian, maka jelaslah bahwa gerhana merupakan tanda kekuasaan Allah untuk menakuti hamba-hamba-Nya. sebagaimana pada bencana alam lainnya seperti gempa bumi, dsb. agar manusia kembali kepada Allah, mau menaati-Nya dan tidak lagi berbuat maksiat. Oleh karena itu, saat terjadi gerhana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang ketika itu untuk melaksanakan shalat, berdoa, berdzikr, beristighfar (meminta ampunan), bersedekah dan melakukan amal saleh lainnya seperti memerdekakan budak dengan harapan semoga mereka tidak ditimpa sesuatu yang mengkhawatirkan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari di mana angin bertiup kencang dan cuaca mendung, nampak raut muka (gelisah) di wajahnya, Beliau bolak-balik berjalan. Namun ketika hujan turun, Beliau senang dan hilang sikap seperti itu. Aku pun bertanya kepada Beliau (tentang sikapnya), maka Beliau menjawab, “Saya khawatir hal itu merupakan azab yang ditimpakan kepada ummatku”, sedangkan ketika melihat hujan, Beliau bersabda, “(Ini adalah) rahmat.” (HR. Muslim)

Di hadits sebelumnya, Beliau menjelaskan bahwa gerhana terjadi bukanlah karena ada seorang tokoh yang meninggal atau karena lahirnya seorang tokoh. Maksud Beliau berkata begitu adalah untuk menghilangkan anggapan yang menyebar di saat itu, di mana ketika itu Ibrahim putera Beliau wafat, lalu mereka pun mengaitkan terjadi gerhana karena wafatnya putera Beliau, maka Beliau menghilangkan anggapan tersebut. Oleh karena itu, hendaknya setelah shalat gerhana, imam mengingatkan demikian serta menghilangkan keyakinan-keyakinan tidak benar yang ada di masyarakat ketika terjadi gerhana.

Faedah kusuf dan hikmahnya

 

Kusuf memiliki hikmah yang banyak, di antaranya adalah:

  1. Terdapat bukti bahwa matahari, bulan dan alam semesta ini diatur oleh Allah Ta’ala.
  2. Menunjukkan tidak pantasnya matahari dan bulan disembah.
  3. Menyadarkan hati yang sebelumnya lalai.
  4. Sebagai contoh terhadap hal yang akan terjadi pada hari kiamat, dan bahwa hal itu mudah bagi Allah.
  5. Peringatan bahwa musibah bisa saja menimpa kepada orang yang tidak berdosa sebagai peringatan bagi orang yang berdosa.
  6. Mengingatkan manusia yang sebelumnya menjalankan ibadah tanpa disertai rasa khauf (takut), maka dengan adanya gerhana diharapkan mereka menjalankannya dengan rasa takut dan harap.

Hukum shalat kusuf

Paraulama berbeda pendapat tentang hukum shalat kusuf.Adayang berpendapat bahwa hukumnya sunnah mu’akkadah (sangat ditekankan).Adayang berpendapat bahwa hukumnya sunah. Sedangkan yang lain berpendapat wajib. Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa hukumnya adalah sunnah mu’akkadah.

Sungguh sangat disayangkan, amalan yang begitu penting ini ditinggalkan oleh sebagian kaum muslimin. Kita dapat saksikan untuk acara yang tidak ada contohnya, seperti Nisfu Sya’ban mereka beramai-ramai menghadirinya, sedangkan Sunnah yang dasarnya shahih ini mereka tinggalkan.

Adab ketika terjadi gerhana

Adabeberapa sikap yang selayaknya dilakukan saat terjadi gerhana, di antaranya adalah:

  1. Memiliki rasa takut kepada Allah Ta’ala
  2. Memikirkan siksaan Allah kepada orang-orang yang berbuat maksiat.

Dalam hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khutbahnya seusai shalat kusuf bersabda:

« مَا مِنْ شَىْءٍ كُنْتُ لَمْ أَرَهُ إِلاَّ قَدْ رَأَيْتُهُ فِى مَقَامِى هَذَا حَتَّى الْجَنَّةَ وَالنَّارَ ، وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِى الْقُبُورِ ….”

“Tidak ada satu pun yang aku belum pernah melihatnya kecuali sekarang aku melihatnya di tempatku ini sampai surga dan neraka. Telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan diuji ketika di kubur…dst.” (HR. Bukhari)

Pada saat itu diperlihatkan kepada Beliau surga dan neraka. Beliau juga diperlihatkan siksaan yang menimpa penghuni neraka, dilihatnya seorang wanita yang disiksa karena mengurung seekor kucing tanpa memberinya makan dan minum, dilihatnya ‘Amr bin Malik bin Luhay menarik ususnya di neraka, di mana dia adalah orang pertama yang merubah agama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, dia membawa berhala kepada orang-orang Arab sehingga mereka menyembahnya. Dilihatnya penghuni neraka yang terbanyak, yaitu kaum wanita karena sikap kufur mereka kepada suami; mereka tidak berterima kasih terhadap kebaikan suami. Dilihat oleh Beliau siksaan orang yang mencuri barang bawaan jama’ah hajji dan diberitakan kepada Beliau fitnah kubur. Beliau memerintahkan kaum muslimin ketika itu untuk berlindung dari azab kubur. Beliau juga bersabda:

وَاللهِ لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيْلاً، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيْرًا

“Demi Allah, kalau sekiranya kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” [lihat dalil-dalilnya di kitab Shalaatul Kusuf oleh Dr. Sa’id Al Qahthaaniy]

  1. Hendaknya ada yang menyerukan “Ash Shalaatu Jaami’ah” (mari shalat berjama’ah) agar orang-orang yang masih di rumah keluar berkumpul untuk shalat gerhana.

Demikianlah yang dilakukan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lafaz tersebut tidaklah diucapkan pada setiap kali shalatlimawaktu berjama’ah, bahkan untuk shalat kusuf. Sedangkan untuk shalatlimawaktu berjama’ah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan agar meluruskan dan merapatkan barisan.

  1. Ketika shalat kusuf tidak ada azan dan iqamat.
  2. Dalam shalat Kusuf, bacaan dijaharkan.
  3. Shalat Kusuf dilakukan di masjid.

Ibnu Qudamah rahimahullah menjelaskan bahwa sunnahnya shalat kusuf itu dilakukan berjama’ah di masjid, dan dibolehkan melaksanakannya masing-masing. Namun melakukannya secara berjama’ah lebih utama, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakannya berjama’ah dan sunnahnya orang-orang shalat di masjid (Lih. Al Mughni 3/322)

  1. Dalam shalat kusuf, kaum wanita juga boleh ikut bersama kaum laki-laki di belakang mereka.
  2. Shalat kusuf ini berlaku juga bagi musafir, berdasarkan keumuman perintah Beliau untuk melaksanakan shalat kusuf ketika melihat gerhana.
  3. Diadakan khutbah setelah shalat kusuf.

Berdasarkan hadits-hadits yang shahih bahwa khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam shalat kusuf dilakukan setelah salam, lalu Beliau duduk di atas mumbar (di mana mimbar Beliau terdiri dari tiga tangga), Beliau berkhutbah, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu menjelaskan bahwa matahari dan bulan terjadi gerhana bukanlah karena kematian seseorang dan karena lahirnya seseorang, Beliau juga menyuruh sedekah, beristighfar dan berdoa. Beliau juga menjelaskan tentang siksa kubur dan siksaan di neraka.

10. Bersegera untuk berdzikr, berdoa, beristighfar, bertakbir, memerdekakan budak, bersedekah, shalat dan berlindung dari azab kubur dan azab neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ، فَاذْكُرُوا اللهَ، وَكَبِّرُوْا، وَصَلُّوْا، وَتَصَدَّقُوْا

“Apabila kalian melihatnya, maka segeralah dzikrullah, bertakbir, shalat dan bersedekah.”

Waktu pelaksanaan shalat kusuf

Waktu shalat kusuf dimulai ketika pertama kali gerhana hingga selesai, dalilnya adalah hadits Abu Bakrah berikut:

كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَانْكَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَقَامَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى دَخَلَ الْمَسْجِدَ ، فَدَخَلْنَا فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ ، حَتَّى انْجَلَتِ الشَّمْسُ

“Kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu terjadilah gerhana, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit sambil menarik selendangnya hingga masuk ke masjid. Kami pun ikut masuk ke masjid, lalu Beliau shalat bersama kami dua rak’at sampai hilang gerhana matahari.” (HR. Bukhari)

Cara Pelaksanaan shalat gerhana

Tatacara pelaksanaan shalat gerhana adalah sbb:

  1. Dilakukan dua rak’at. Masing-masing rak’at dua kali ruku’ dan dua kali berdiri (pada setiap berdiri membaca Al Fatihah dansurat).

Sebelum membacasuratAl Fatihah, seperti biasa membaca doa istiftah.

  1. Disyari’atkan agar lama ketika berdiri, ruku’ dan sujud dalam shalat gerhana.

Lebih jelasnya, mari kita simak penjelasan Aisyah radhiyallahu ‘anha yang kesimpulannya sebagai berikut,

“Telah terjadi gerhana di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau keluar ke masjid dan orang-orang pun membuat barisan di belakangnya, Beliau bertakbir dan membaca surat yang panjang, lalu bertakbir untuk ruku’, Beliau melakukan ruku’ yang lama, lalu bangkit sambil mengucapkan “Sami’allahu liman hamidah”, Beliau pun berdiri dan tidak langsung sujud bahkan membaca surat yang panjang, namun tidak sepanjang seperti yang pertama. Beliau pun bertakbir lalu ruku’ dan melakukan ruku’ yang lama, namun tidak lama seperti ruku’ yang pertama, kemudian bangkit sambil mengucap “Sami’allahu liman hamidah” “Rabbanaa walakal hamd”. Lalu Beliau sujud, Beliau melakukan rak’at kedua sama seperti itu, sehingga ruku’ Beliau bejumlah empat kali dengan empat kali sujud (yakni sujudnya seperti biasa)…dst.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)

Shalat lil Aayaat (karena ada peristiwa mengkhawatirkan)

Peristiwa yang mengkhawatirkan itu misalnya gempa bumi, angin kencang, terangnya suasana di malam hari, gelapnya suasana di siang hari, halilintar yang keras, hujan tidak kunjung henti dan peristiwa lainnya yang mengkhawatirkan.

Dalam keadaan seperti ini ada beberapa pendapat ulama sbb:

-   Tidak ada shalat lil aayaat selain gempa bumi.

-   Tidak ada shalat lil aayaat selain kusuf (karena gerhana).

-   Setiap ada peristiwa yang mengkhawatirkan ada shalat (caranya seperti shalat kusuf).

Pendapat ketiga beralasan dengan peristiwa kusuf (gerhana), di mana Allah menjadikannya untuk menakuti hamba-hamba-Nya sehingga disyari’atkan shalat, demikian juga pada peristiwa yang mengkhawatirkan lainnya. Di samping itu, Ibnu Abbas pernah melakukan shalat karena gempa bumi yang terjadi di Basrah. Pendapat ketiga merupakan pendapat Abu Hanifah, Ibnu Hazm, salah satu riwayat dari Imam Ahmad dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Hal ini seperti yang anda saksikan memiliki (alasan) yang sangat kuat.”

Fawaa’id (beberapa catatan penting)

  1. Seseorang dianggap mendapatkan satu rak’at pertama ketika mendapatkan ruku’ pertama dari rak’at pertama. Oleh karena itu, barang siapa yang mendapatkan ruku’ kedua dari rak’at pertama, maka ia dianggap belum mendapatkan rak’at pertama, sehingga ia harus menambahkan satu rak’at lagi dengan dua kali ruku’. Inilah pendapat yang rajih di antara pendapat-pendapat yang ada di kalangan ahli ilmu.
  2. Apabila gerhana telah selesai, maka tidak dilakukan shalat. Demikian juga jika seseorang tidak sempat shalat kusiuf, maka tidak disyari’atkan baginya mengqadha’.
  3. Apabila para ahli falak berkata bahwa akan terjadi gerhana, maka kita tidak melakukan shalat gerhana sampai kita menyaksikan gerhana. Hal ini, berdasarkan sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam “Fa idzaa ra’aytum dzaalik” (Apabila kalian melihatnya…dst). Oleh karena itu, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berpendapat bahwa jika terjadi gerhana namun tidak dapat dilihat kecuali dengan alat tertentu, seperti teropong, maka kita tidak melakukan shalat gerhana (Lih. Asy Syarhul Mumti’ 2/236-237).
  4. Menurut pendapat yang shahih, bahwa shalat kusuf boleh dilakukan pada waktu-waktu terlarang karena keumuman perintah Beliau untuk segera melaksanakan shalat.

Demikian mungkin hal yang dapat kami kumpulkan seputar shalat gerhana semoga bermanfaat, wal hamdulillahi rabbil ‘aalamin.

Marwan bin Musa

Maraaji’: Shalatul Kusuf (Dr. Sa’id Al Qahthaaniy), Al Wajiiz (Abdul ‘Azhiim bin Badawi), Al Kusuuf (Syaikh Ali bin Hasan Al Halabiy) dll.

بسم الله الرحمن الرحيم

Shalat Jum’at

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمُ الْجُمُعَةِ : فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيْهِ قُبِضَ وَفِيْهِ النَّفْخَةُ وَفِيْهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيْهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ ) قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ عَلَيْكَ صَلاَتُنَا وَقَدْ أَرَمْتَ ؟  فَقَالَ : ( إِنَّ اللهَ عَزَّوَجَلَّ حَرَّمَ عَلىَ الْاَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْاَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya di antara hari yang paling utama adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, Adam diwafatkan, sangkakala ditiup dan pada hari itu terjadi kematian (setelah ditiup sangkakala). Oleh karena itu, perbanyaklah bershalawat kepadaku, karena shalawatmu akan ditampakkan kepadaku.”Parasahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami ditampakkkan kepadamu sedangkan Engkau telah menjadi tanah?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para nabi.” (Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan Nasa’i)

Hari Jum’at adalah hari yang paling utama dalam seminggu, sedangkan hari ‘Arafah dan hari Nahar (10 Dzulhijjah) adalah hari yang paling utama dalam setahun. Dinamakan hari Jum’at karena pada hari itu orang-orang berkumpul untuk shalat.

Hukum shalat Jum’at

Shalat Jum’at hukumnya fardhu ‘ain (lih. Al Jumu’ah: 6), kecualilimaorang; budak, wanita, anak-anak, orang sakit dan musafir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْجُمُعَةُ حَقٌ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةٌ : عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيْضٌ

“Shalat Jum’at itu wajib bagi setiap muslim dengan berjama’ah kecuali empat orang; budak, wanita, anak-anak atau orang yang sakit.” (HR. Abu Dawud, Daruquthni, Baihaqi dan Hakim, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Abu Dawud: 942)

Dalam riwayat Daruquthni dari Ibnu Umar secara marfu’, Beliau bersabda:

لَيْسَ عَلَى الْمُسَافِرِ جُمُعَةٌ

“Bagi musafir tidak wajib shalat Jum’at.”

Ancaman bagi orang yang meninggalkan shalat Jum’at

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنَ الْغَافِلِينَ » .

“Hendaknya orang-orang berhenti meninggalkan shalat Jum’at atau jika tidak, Allah akan mengecap hati mereka, sehingga mereka tergolong orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim dan Nasa’i)

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمُعَاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ كُتِبَ مِنَ الْمُنَافِقِيْنَ

“Barang siapa yang meninggalkan shalat Jum’at tiga kali tanpa uzur, maka akan dicatat termasuk orang-orang munafik.” (HR. Thabrani, lih. Shahihul Jami’ 6144)

Keutamaan shalat Jum’at

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ » .

“Shalat yanglimawaktu, Jum’at yang satu ke Jum’at berikutnya dan (puasa) Ramadhan yang satu ke (puasa) Ramadhan berikutnya akan menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya jika dijauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

Waktu shalat Jum’at

Waktunya adalah waktu Zhuhur. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata:

اَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يُصَلِّي الْجُمُعَةَ حِيْنَ تَمِيْلُ الشَّمْسُ

Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat Jum’at ketika matahari bergeser (ke barat).” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dan boleh sebelum tiba waktu Zhuhur. Jabir radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, “Kapankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat Jum’at?” ia menjawab:

كَانَ يُصَلِّى ثُمَّ نَذْهَبُ إِلَى جِمَالِنَا فَنُرِيحُهَا حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ

“Beliau shalat Jum’at. Setelah itu, kami pergi mendatangi unta kami dan mengistirahatkannya ketika matahari telah tergelincir.” (HR. Muslim)

Adab dan amalan yang patut dilakukan pada hari Jum’at

Pada hari Jum’at kita disyari’atkan melakukan hal-hal berikut:

  1. Mandi untuk shalat Jum’at. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« غُسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُحْتَلِمٍ » .

“Mandi pada hari Jum’at wajib bagi setiap orang yang sudah baligh” (Muttafaq ‘alaih)

Hukumnya yang rajih –insya Allah- adalah wajib, berdasarkan hadits di atas.

  1. Dianjurkan memakai pakaian yang bagus, bersiwak, memakai minyak rambut dan memakai wewangian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَلَبِسَ مِنْ أَحْسَنِ ثِيَابِهِ وَمَسَّ مِنْ طِيْبٍ إِنْ كَانَ عِنْدَهُ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَلَمْ يَتَخَطَّ أَعْنَاقَ النَّاسِ ثُمَّ صَلَّى مَا كَتَبَ اللهُ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ اِذَا خَرَجَ اِمَامُهُ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ صَلاَتِهِ كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الَّتِي قَبْلَهَا

“Barang siapa yang mandi pada hari Jum’at, lalu ia memakai pakaian yang bagus dan memakai wewangian yang ada, kemudian berangkat shalat Jum’at. ia pun tidak melangkahi leher orang, lalu shalat semampunya, kemudian diam ketika imam datang hingga shalat selesai, maka hal itu akan menjadi  penghapus dosa antara Jum’at tersebut dengan Jum’at sebelumnya.” (HR. Abu Dawud)

« لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى » .

“Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, bersih-bersih semampunya, memakai minyak rambut atau memakai wewangian di rumahnya, kemudian berangkat, ia pun tidak memisahkan dua orang, setelah itu ia shalat semampunya, lalu diam ketika imam berkhutbah, kecuali akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at yang satu ke Jum’at yang satunya lagi.” (HR. Bukhari)

  1. Berangkat lebih awal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ ، وَقَفَتِ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى بَابِ الْمَسْجِدِ يَكْتُبُونَ الأَوَّلَ فَالأَوَّلَ ، وَمَثَلُ الْمُهَجِّرِ كَمَثَلِ الَّذِى يُهْدِى بَدَنَةً ، ثُمَّ كَالَّذِى يُهْدِى بَقَرَةً ، ثُمَّ كَبْشاً ، ثُمَّ دَجَاجَةً ، ثُمَّ بَيْضَةً ، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ طَوَوْا صُحُفَهُمْ ، وَيَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ » .

“Apabila tiba hari Jum’at, maka para malaikat berdiri di pintu masjid mencatat siapa yang datang pertama dst. Perumpamaan orang yang datang lebih awal seperti berkurban dengan unta, setelahnya seperti berkurban dengan sapi, setelahnya seperti berkurban dengan kambing, setelahnya seperti berkurban dengan ayam dan setelahnya lagi seperti berkurban dengan telur. Apabila imam datang, maka para malaikat menutup catatan mereka dan ikut mendengarkan nasehat.” (HR. Jama’ah selain Ibnu Majah)

  1. Melakukan shalat sunat semampunya sampai imam datang (lih. hadits sebelumnya). Setelah shalat Jum’at dianjurkan shalat sunat dua rak’at atau empat rak’at setelah diselingi (dipisah) berbicara atau berdzikr atau dengan berpindah tempat atau dengan keluar dari masjid lalu kembali lagi atau dengan shalat di rumah. Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berkata:

فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمَرَنَا بِذَلِكَ أَنْ لاَ تُوصَلَ صَلاَةٌ حَتَّى نَتَكَلَّمَ أَوْ نَخْرُجَ .

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami begitu; yakni agar suatu shalat tidak disambung dengan shalat yang lain sampai kami berbicara atau keluar.” (HR. Muslim)

  1. Diam mendengarkan khutbah dan tidak berbuat sia-sia seperti bermain-main dengan pasir dsb. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ : أَنْصِتْ . وَالإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ » .

“Apabila kamu berkata, “Diamlah” kepada saudaramu pada hari Jum’at, sedangkan imam berkhutbah, maka kamu telah sia-sia (yakni tidak mendapatkan keutamaan shalat Jum’at).” (HR. Bukhari-Muslim)

وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

“Dan barang siapa yang bermain dengan pasir, maka ia telah berbuat sia-sia.” (HR. Muslim)

  1. Tetap melakukan shalat tahiyyatul masjid, ketika datang terlambat saat imam berkhutbah. Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma berkata: Seorang laki-laki datang ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah pada hari Jum’at, lalu Beliau bertanya: “Apakah kamu sudah shalat (yakni tahiyyatul masjid) hai fulan?” Orang itu menjawab: “Belum.” Beliau pun bersabda: “Bangunlah dan kerjakanlah shalat dua rak’at.” (HR. Bukhari)
  2. Makruh melangkahi pundak orang dan memisahkan dua orang yang sedang duduk bersama (lihat haditsnya di no. 2)
  3. Dianjurkan membacasuratAl Kahfi di malam atau siangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ

“Barang siapa yang membacasuratAl Kahfi pada hari Jum’at, maka Allah akan memberikan cahaya untuknya antara dua Jum’at.” (HR. Hakim dan Baihaqi, lih. Shahihul Jami’ 6470)

Inilahsuratyang dibaca pada hari Jum’at, adapun anjuran membacasuratYasin pada hari Jum’at haditsnya dha’if (bukan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

  1. Memperbanyak shalawat dan salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (sudah disebutkan haditsnya).

10. Memperbanyak do’a. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Hari Jum’at (siangnya) ada 12 waktu, tidak ada seorang hamba yang muslim meminta kepada Allah sesuatu kecuali akan diberikan, maka carilah saat tersebut di waktu terakhir setelah shalat ‘Ashar.”(Shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa’i dan hakim)

Adab seorang khatib

Khutbah termasuk syarat sahnya ibadah Jum’at. Dalam berkhutbah hendaknya khatib memperhatikan hal-hal berikut:

-   Berkhutbah sambil berdiri yang disela-selanya ada duduk. (HR. Muslim)

-   Duduk dilakukan setelah mengucapkan salam ketika menaiki mimbar. Jabir berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila menaiki mimbar, mengucapkan salam.” (HR. Ibnu Majah dan Thabrani dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

-   Berdiri khutbah di tangga kedua dan duduk di tangga ketiga. Anas berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri pada hari Jum’at dan menyandarkan punggungnya ke batang pohon kurma yang ditegakkan dalam masjid lalu berkhutbah kepada orang-orang. Kemudian datanglah seorang yang berasal dari Rum dan berkata, “Maukah aku buatkan untukmu sesuatu yang kamu bisa duduk di atasnya dan seakan-akan engkau berdiri?”, maka orang itu membuatkan untuk Beliau mimbar yang memiliki dua tangga, dan Beliau duduk di tangga ketiga.” (HR. Darimi, As Shahiihah 2174)

Penyusun Al Hadyu berkata, “Tidak dihapal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa Beliau setelah dibuatkan mimbar menaikinya dengan pedang, busur maupun lainnya (seperti tongkat). Kalau seandainya hal itu sunnah, tentu Beliau tidak akan meninggalkannya setelah dibuatkan mimbar, sebagaimana tidak juga dihapal dari Beliau bahwa Beliau bersandar dengan pedang sebelum dibuatkan mimbar, bahkan Beliau hanya menggunakan busur atau tongkat.”

-   Dianjurkan memulai khutbah dengan khutbatul haajah, yakni “innal hamda lillah nahmaduhu wa…dst.”

-   Membaca syahadat, karena khutbah yang tidak ada syahadatnya seperti tangan yang berkusta. (HR. Abu Dawud)

-   Menghadap ke makmum.

-   Menjiwai isi khutbah, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkhutbah merah kedua matanya dan lantang suaranya. (HR. Muslim dan Tirmidzi)

-   Jika berdoa, cukup mengangkat jari telunjuk saja (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

-   Mempersingkat khutbah dan memperlama shalat (HR. Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang membacasuratAl Jumu’ah dan Al Munafiqun dalam shalat Jum’at, dan terkadang Al A’laa dan Al Ghaasyiyah (HR. Muslim)

Wallahu a’lam, wa shallallahu alaa nabiyyinaa Muhammad wa sallam.

 

Marwan bin Musa

Maraji’: Al Wajiz, Fiqhus Sunnah, Minhajul Muslim dll.

بسم الله الرحمن الرحيم

Shalat-shalat Sunat

Sesungguhnya Allah mewajibkan dalam sehari semalam shalatlimawaktu. Shalatlimawaktu tersebut adalah tiang agama, di samping sebagai pemisah antara seseorang dengan kekufuran. Selain shalatlimawaktu ada pula shalat-shalat lainnya yang disyari’atkan sebagai tambahan dan penutup kekurangan, hukumnya sunat. Shalat inilah yang disebut dengan nama shalat tathawwu’ (sunat).

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang (kewajiban) dalam Islam? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

« خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِى الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ » .

 “Shalatlimawaktu sehari semalam.”

Orang itu bertanya, “Apakah ada kewajiban lagi selain itu?”

Beliau menjawab, “Tidak, kecuali jika anda ingin bertathawwu’…dst.” (HR. Bukhari)

Keutamaan shalat tathawwu’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ: يَقُوْلُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ: اُنْظُرُوا فِي صَلاَةِ عَبْدِيْ أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً، وَإِنْ كَانْ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئاً قَالَ: انْظُرُوْا هَلْ لِعَبْدِيْ مِنْ تَطَوُّعٍ، فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ: أَتِمُّوْا لِعَبْدِيْ فَرِيْضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ اْلأَعْمَالُ عَلَى ذَلِكُمْ

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Allah Azza wa Jalla akan berkata kepada para malaikat-Nya sedangkan Dia lebih mengetahui, “Lihatlah shalat hamba-Ku, apakah dia menyempurnakannya atau menguranginya?” jika ternyata sempurna, maka dicatat sempurna. Namun jika kurang, Allah berfirman, “Lihatlah! Apakah hamba-Ku memiliki ibadah sunat?” Jika ternyata ada, Allah berfirman, “Sempurnakanlah shalat fardhu hamba-Ku dengan shalat sunatnya,” lalu diambil amalannya seperti itu.” (HR. Empat orang ahli hadits dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Macam-macam shalat sunat dan keutamaanya

  1. 1.    Shalat sunat rawatib

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّى لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ »

“Tidak ada seorang muslim yang melakukan shalat karena Allah dalam setiap harinya sebanyak 12 rak’at; yakni shalat sunat yang bukan fardhu, kecuali Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga atau akan dibangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. Muslim)

Yaitu 4 rak’at sebelum Zhuhur dan 2 rak’at setelahnya, 2 rak’at setelah Maghrib, 2 rak’at setelah Isya dan 2 rak’at sebelum shalat Shubuh sehingga jumlahnya 12. Bisa juga sebelum Zhuhur 2 rak’at, sehingga jumlahnya 10.

  1. 2.    Shalat malam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ » .

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah bulan Allah Muharram (yakni tanggal sepuluh dengan sembilannya), dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim)

  1. 3.    Shalat Dhuha

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى » .

“Pada pagi hari setiap persendian kamu harus bersedekah; setiap tasbih adalah sedekah. Setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan Laailaahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi mungkar juga sedekah dan hal itu bisa terpenuhi oleh dua rak’at yang dikerjakannya di waktu Dhuha.” (HR. Muslim)

Jumlah shalat Dhuha bisa 2 rak’at, 4 rak’at, 6 rak’at, 8 rak’at maupun 12 rak’at.

  1. 4.    Shalat dua rak’at setelah wudhu’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِى هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ ، غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ » .

 “Barang siapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua rak’at dengan khusyu’ melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. 5.    Shalat tahiyyatul masjid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Apabila salah seorang di antara kamu masuk ke masjid, maka janganlah duduk sampai ia shalat dua rak’at.” (HR. Bukhari)

Zhahir hadits ini adalah wajibnya shalat tahiyyatul masjid, namun jumhur ulama berpendapat bahwa hukumnya sunat.

  1. 6.    Shalat antara azan dan iqamat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ

“Antara dua azan (azan dan iqamat) ada shalat, antara dua azan ada shalat,” pada ketiga kalinya Beliau mengatakan, “Bagi siapa saja yang mau.” (HR. Bukhari)

  1. 7.    Shalat tobat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْباً ثُمَّ يَقُوْمُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّي ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ

“Tidak ada seseorang yang melakukan suatu dosa, kemudian ia berdiri dan berwudhu, lalu shalat. Setelah itu, ia meminta ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuninya.”

Kemudian Beliau membacakansuratAli Imran: 135. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud, dan dihasankan oleh Al Albani)

  1. 8.    Shalat qabliyyah Jum’at

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« مَنِ اغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَصَلَّى مَا قُدِّرَ لَهُ ثُمَّ أَنْصَتَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ خُطْبَتِهِ ثُمَّ يُصَلِّىَ مَعَهُ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى وَفَضْلَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ » .

“Barang siapa yang mandi kemudian menghadiri shalat Jum’at, sebelumnya ia shalat semampunya, lalu ia diam sampai khatib menyelesaikan khutbahnya, kemudian ia shalat bersamanya, maka akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at yang satu ke Jum’at berikutnya dengan ditambah tiga hari.” (HR. Muslim)

Shalat ini tidak dilakukan setelah azan dikumandangkan, tetapi sebelumnya sampai khatib datang.

  1. 9.    Shalat ba’diyyah Jum’at

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

« إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيُصَلِّ بَعْدَهَا أَرْبَعًا » .

“Apabila salah seorang di antara kamu shalat Jum’at, maka kerjakanlah setelahnya empat rak’at.” (HR. Muslim)

Bisa juga ia kerjakan hanya dua rak’at karena Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukannya.

10. Shalat sunat di masjid sepulang safar

Ka’ab bin Malik mengatakan: Beliau –yakni Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam- apabila pulang dari safar, memulai datang ke masjid, lalu shalat dua rak’at, kemudian duduk menghadap orang-orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

11. Shalat Istikharah (meminta pilihan)

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu ingin melakukan suatu perbuatan, maka lakukanlah shalat dua rak’at bukan di shalat fardhu. Setelah itu ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ ُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي

Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan kepada-Mu, meminta upaya dengan kekuasaan-Mu. Aku meminta kepada-Mu di antara karunia-Mu yang besar. Engkau kuasa, aku tidak kuasa, Engkau Mengetahu aku tidak mengetahui. Engkau Maha Mengetahui yang ghaib. Ya Allah, jika hal ini (ia sebutkan pilihannya) baik untukku, agamaku, duniaku dan akibatnya, cepat atau lambat, maka taqdirkanlah buatku dan mudahkanlah ia, kemudian berikanlah keberkahan kepadanya. Namun, apabila hal itu buruk buatku baik untuk agamaku, duniaku dan akibatnya, cepat atau lambat, maka hindarkanlah ia dariku dan hindarkanlah aku darinya, taqdirkanlah untukku yang baik di manapun aku berada, lalu ridhailah aku.” (HR. Bukhari)

Jika melihat kandungan doa istikharah di atas, menunjukkan bahwa seseorang melakukan sholat istikharah ini ketika telah memilih suatu perbuatan, ketika itulah disyari’atkan shalat istikharah, kemudian ia melanjutkan perbuatan yang dipilihnya itu baik hatinya tentram maupun tidak.

12. Shalat gerhana

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اَلشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اَللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ, فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا, فَادْعُوا اَللَّهَ وَصَلُّوا, حَتَّى تَنْكَشِفَ

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidaklah terjadi gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena hidupnya. Apabila kamu melihatnya berdoalah kepada Allah dan lakukanlah shalat sampai hilang.”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Jumlahnya dua rak’at, dilakukan secara berjama’ah. Masing-masing rak’at dua kali ruku’ dan dua kali berdiri (pada setiap berdiri membaca Al Fatihah dansurat).

Setelah melakukan shalat imam disunnahkan untuk berkhutbah, menasehati orang-orang, mendorong mereka untuk beristighfar dan beramal shalih.

13. Shalat isyraq

Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ، ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ، تَامَّةً تَامَّةً تَامَّةً “

“Barang siapa shalat Subuh berjama’ah, lalu duduk berdzikr mengingat Allah sampai matahari terbit. Setelah itu ia shalat dua rak’at, maka ia akan mendapatkan pahala seperti satu kali hajji dan umrah secara sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi)

Shalat ini dikerjakan pada waktu dhuha di bagian awalnya ketika matahari terbit setinggi satu tombak (jarak antara terbit matahari/syuruq dengan setinggi satu tombak kira-kira ¼ jam).

Catatan:

-    Shalat sunat lebih utama di rumah.

-    Shalat sunat boleh sambil duduk meskipun ia mampu berdiri. Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنْ صَلَّى قَائِماً فَهُوَ أَفْضَلُ، وَمَنْ صَلَّى قَاعِداً فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ اْلقَائِمِ

“Jika seseorang shalat sambil berdiri, maka itu lebih utama. Barang siapa yang shalat sambil duduk, maka ia akan mendapatkan separuh pahala orang yang shalat sambil berdiri.” (HR. Bukhari)

-     Demikian juga dibolehkan “shalat sunat” di atas kendaraan, ketika takbiratul ihram ia menghadapkan kendaraan ke kiblat. Setelah itu, terserah kendaraannya menghadap ke mana saja.

Beberapa shalat sunat yang tidak ada tuntunannya

Di antara shalat sunat yang tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah shalat Futuhul quluub, shalat lihurmati Rasuulillah, shalat Nishfu Sya’ban, shalat Raghaa’ib, shalat Kifayah, Shalat ru’yatin Nabi.

Abu Yahya Marwan

Maraaji’: Ash Shalawat ghairu mafruudhah (terb. Darul wathan), As Sunan wal mubtada’at (M. Abdus Salam) dll.

بسم الله الرحمن الرحيم

Kedudukan Shalat Dalam Islam

Sedih terasa hati ini, menyaksikan keadaan kaum muslimin saat ini yang sudah berani meninggalkan shalat. Bagaimana hati tidak merasa sedih? Masjid-masjid di negeri yang mayoritas muslim ternyata sedikit sekali pemakmurnya. Kalau pun ada hanya beberapa orang saja, dan paling banyak hanya satu shaf. Terutama pada shalatlimawaktu selain shalat Maghrib. Bahkan ada masjid yang tidak dikumandangkan suara azan karena kesibukan masyarakatnya terhadap dunia, padahal tidak ada satu kampung pun yang tidak ditegakkan disanashalat berjamaah kecuali setan akan menguasainya. Bagaimana umat Islam akan jaya seperti dahulu, sedangkan ajarannya yang agung sudah diremehkan dan ditinggalkan?

Oleh karena itu, mudah-mudahan risalah ini membuat kita menyadari betapa tingginya kedudukan shalat dalam Islam.

Kedudukan shalat dalam Islam

Shalat memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Shalat adalah tiang agama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

رَأْسُ الْاَمْرِ الْاِسْلاَمُ ، وَعَمُوْدُهُ الصَّلاَةُ ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Pokok perkara adalah Islam, tiangnya shalat dan puncaknya jihad fii sabiilillah.” (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Shalat merupakan amal shalih yang paling dicintai Allah. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apa yang paling dicintai Allah Ta’ala?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Berjihad fii sabiilillah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Shalat adalah amal saleh yang pertama kali dihisab pada hari kiamat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلاَةُ فَإِنْ صَلُحَتْ صَلُحَ سَائِرُ عَمَلِهِ ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ

“Pertama kali yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Jika baik shalatnya, maka baiklah seluruh amalnya dan jika buruk, maka buruklah seluruh amalnya.” (HR. Thabrani, lih. Shahihul Jami’ no. 2573)

Shalat adalah wasiat terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya, Beliau bersabda:

اَلصَّلاَةَ الصَّلاَةَ ، وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“Jagalah shalat, jagalah shalat dan berbuat baiklah kepada budak yang kalian miliki.” (HR. Thabrani, lih. Shahihul Jami’ no. 3873)

Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan kita menjaganya baik ketika hadhar (tidak safar) maupun ketika safar, ketika suasana aman maupun suasana mencekam. Dia berfirman:

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.—Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (terj. Al Baqarah: 238-239)

Bahkan dalam kondisi perang, Allah Subhaanahu wa Ta’aala tetap memerintahkan kita menjaganya (lih. An Nisaa’: 102-103).

Demikian juga dalam kondisi sakit, kewajiban shalat tidak gugur, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صَلِّ قَائِمًا, فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا, فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Shalatlah sambil berdiri! Jika tidak bias, maka sambil duduk, jika tidak bias, maka sambil berbaring.” (HR. Bukhari)

Kepada para orang tua, Islam memerintahkan mereka menyuruh anaknya shalat sejak berusia tujuh tahun dan memerintahkan mereka memukul anaknya ketika meninggalkannya saat berusia sepuluh tahun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوْا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ إِذَا بَلَغُوْا سَبْعًا ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا إِذَا بَلَغُوْا عَشْرًا ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun. Pukullah mereka (ketika meninggalkannya) saat berusia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Hakim, Hakim berkata, “Shahih sesuai syarat Muslim.”)

Terhadap orang-orang yang menunda shalat sampai lewat waktunya Allah Ta’ala mengancam akan mendapatkan “Al Ghayy” (kesesatan atau lembah di neraka jahannam). Dia berfirman:

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (terj. Maryam: 59)

Sa’id bin Al Musayyib rahimahullah berkata, “Orang itu tidak shalat Zhuhur kecuali setelah tiba waktu ‘Ashar, tidak shalat Ashar kecuali setelah tiba waktu Maghrib, tidak shalat Maghrib kecuali setelah tiba waktu Isya dan tidak shalat Isya kecuali setelah tiba waktu Subuh dan tidak shalat Subuh kecuali setelah terbit matahari. Orang yang meninggal dalam kondisi terus-menerus seperti ini dan tidak bertobat, maka Allah ancam dengan al ghayy, yaitu lembah di neraka Jahannam yang sangat dalam dan busuk rasanya.”

Jika orang yang menunda shalat sampai tiba waktu shalat berikutnya sudah seperti ini keadaannya, lalu bagaimana dengan orang yang meninggalkan shalat? –na’uudzu billahi min dzaalik-.

Neraka, itulah tempat orang yang meninggalkan shalat. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”— Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat–Dan kami tidak (pula) memberi Makan orang miskin,—Dan kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya,—Dan kami mendustakan hari pembalasan,—Hingga datang kepada Kami kematian”. (ter. Al Muddatstsir: 42-47)

Umat Islam juga tidak berselisih bahwa meninggalkan shalat dengan sengaja termasuk dosa-dosa besar yang sangat besar, dan bahwa dosanya lebih besar di sisi Allah daripada dosa membunuh, mengambil harta, zina, mencuri dan meminum khamr.

Ibnul Qayyim ketika menjelaskan hadits bahwa orang yang meninggalkan shalat akan dikumpulkan bersama Fir’aun, Qarun, Haman dan Ubay bin Khalaf -di antara ulama ada yang mencacatkan hadits ini- berkata, “Orang yang meninggalkan shalat ada yang meninggalkannya karena disibukkan mengurus hartanya, kerajaannya, kekuasaannya atau perniagaannya (bisnisnya). Barang siapa yang meninggalkannya karena disibukkan oleh hartanya, maka dia akan bersama Qarun. Barang siapa yang meninggalkannya karena disibukkan oleh kerajaannya, maka dia akan bersama Fir’aun. Barang siapa yang meninggalkannya karena disibukkan oleh kepemimpinannya maka dia akan bersama Haman dan barang siapa yang meninggalkannya karena disibukkan oleh perniagaannya maka dia akan bersama Ubay bin Khalaf.”

Pada hari kiamat nanti, orang-orang yang meninggalkan shalat tidak akan sanggup sujud kepada Allah Ta’ala ketika manusia semuanya dipanggil untuk sujud. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa,– (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi diliputi kehinaan. dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, sedangkan mereka dalam keadaan sejahtera.” (terj. Al Qalam: 42-43)

Sa’id bin Al Musayyib rahimahullah berkata: “Dahulu mereka (di dunia) mendengar “Hayya ‘alash shalaah-Hayya ‘alal falaah”, namun mereka tidak mendatangi padahal mereka sehat-sentosa.”

Keutamaan shalat

Di antara keutamaan shalat adalah, bahwa dengan shalat Allah Ta’ala akan menggurkan dosa-dosa seseorang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ

“Perumpamaan shalat yanglimawaktu adalah seperti sebuah sungai yang dalam dan mengalir; yang berada di depan pintu rumah salah seorang di antara kamu, ia mandi disanasetiap harilimakali.” (HR. Muslim)

Al Hasan berkata, “Sehingga tidak tersisa lagi kotoran.”

Perhatikanlah, bagaimana Islam memuliakan shalat dan meninggikan setinggi-tingginya, lalu apakah pantas seorang muslim meninggalkannya?

Hukum orang yang meninggalkan shalat

Orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya adalah kafir berdasarkan kesepakatan para ulama. Tetapi orang yang meninggalkan shalat, namun masih mengakui kewajibannya maka para ulama berselisih, di antara mereka ada yang mengkafirkan dan ada juga yang tidak mengkafirkan. Ulama yang mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat beralasan dengan beberapa hadits, di antaranya:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Batas pemisah antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian yang mengikat kami dengan mereka adalah shalat. Barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad dan para pemilik kitab Sunan)

Sedangkan ulama yang tidak mengkafirkannya menakwil hadits di atas bahwa yang menjadikan kafir adalah jika meninggalkannya karena mengingkarinya atau mentakwil kufur disanadengan kufur asghar (kecil), demikian juga beralasan dengan hadits berikut:

« خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى الْعِبَادِ فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ » .

“Limashalat yang Allah Azza wa Jalla wajibkan kepada hamba-hamba-Nya. Barang siapa yang mengerjakannya dan tidak mennyia-nyiakannya sedikit pun karena meremehkan haknya, maka di sisi Allah ia mempunyai janji untuk dimasukkan-Nya ke dalam surga. Namun barang siapa yang tidak mengerjakannya, maka tidak ada perjanjian (masuk surga) di sisi Allah. Jika Allah menghendaki diazab-Nya dan jika Dia menghendaki, maka akan dimasukkan-Nya ke dalam surga.” (Shahih, HR. Malik, Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud dan Nasa’i)

Ulama yang mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat dari kalangan sahabat di antaranya adalah Umar bin Khathab, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Mu’adz bin Jabal, dll. Sedangkan dari kalangan selain sahabat di antaranya adalah Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Raahawaih, Ibnul Mubaarak, Ibrahim An Nakha’iy, Al Hakam bin ‘Utaibah, Ayyub As Sikhtiyaaniy, Abu Dawud Ath Thayaalisiy, Ibnu Abi Syaibah, Zuhair bin Harb, dll. Di zaman sekarang, di antara ulama yang mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat adalah Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syaikh Shaalih Al Fauzaan dll.

Sedangkan ulama yang tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat di antaranya adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’i. Di zaman sekarang, di antara ulama yang tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat adalah Syaikh Al Albani dan murid-muridnya, termasuk juga pengarang kitab Al Wajiz Syaikh Abdul ‘Azhim .

Perselisihan tentang hukum orang yang meninggalkan shalat adalah perselisihan yang diakui di kalangan kaum muslimin sejak zaman dahulu hingga sekarang. Murid-murid Syaikh Al Albani rahimahumullah dalam risalah mereka “Mujmal Masaa’ilil Iman Al ‘Ilmiyyah” berkata:

-    Orang yang meninggalkannya –karena mengingkari- maka ia kafir keluar dari Islam, kami tidak mengetahui adanya perbedaan di antara ulama tentang masalah ini.

Termasuk juga –yakni sebagai orang yang murtad dan kafir- orang yang hendak dihukum mati, lalu ia lebih memilih mati daripada mengerjakan shalat.

-    Perbedaan antara Ahlus sunnah –para pengikut manhaj salaf- terjadi dalam hal  orang yang meninggalkan shalat karena malas; tidak menyangkal dan mengingkarinya, sebagaimana hal ini telah dinukil oleh lebih dari seorang ahli ilmu, seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i, ini adalah riwayat yang masyhur dari imam Ahmad.

-    Orang yang mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat secara mutlak, tidaklah menuduh orang yang menyelisihinya sebagai murji’ah, bahkan hal itu tidak boleh baginya.

Dan orang yang tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat karena malas tidaklah menuduh orang yang menyelisihinya sebagai khawarij, bahkan tidak layak menuduh begitu.

Mereka juga menjelaskan, “Oleh karena itu, perselisihan tentang  (hukum) orang meninggalkan shalat tentang mana yang benar adalah perselisihan yang diakui di kalangan Ahlus sunah dan hal itu tidaklah merusak persaudaraan seiman…dst.” (Lih. Buku Mujmal Masaa’ilil Iiman tentang shalat)

Ulama yang mengkafirkan orang yang meninggalkan shalat berbeda pendapat apakah saat ia meninggalkan sebagian shalat atau meninggalkan seluruh shalat. Di antara ulama ada yang berpendapat bahwa orang yang meninggalkan sebagian shalat jika ia berazam untuk mengqadha’nya, maka ia tidak kafir, namun telah melakukan dosa yang sangat besar. Tetapi jika ia meninggalkan keseluruhannya, maka ia kafir. Wallahu a’lam.

Khaatimah (Penutup)

Anda telah mengetahui kedudukan shalat dalam Islam, maka jika anda termasuk orang yang meninggalkan shalat, segeralah bertobat, karena sesungguhnya pintu tobat masih terbuka selama matahari belum terbit dari barat dan selama ajal belum datang. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (terj. Az Zumar: 53)

Marwan bin Musa

Maraaji’: Fiqhus Sunnah (Syaikh sayyid Saabiq), Minhaajul Muslim (Abu Bakar Al Jazaa’iriy), Sabiilun najaah (Syaikh Abul Hasan As Sulaimaaniy), Al Kabaa’ir (Imam Adz Dzahabiy), Tafsir Ibnu Katsir, Mujmal masaa’ilil iimaan (murid-murid Syaikh Al Albani rahimahumulah).

بسم الله الرحمن الرحيم

Risalah Sujud Sahwi

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, dan para sahabatnya semua. Amma ba’du:

Sujud sahwi disyariatkan dalam shalat ketika seseorang lupa. Dalil disyariatkan sujud sahwi adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِذَا زَادَ الرَّجُلُ أَوْ نَقَصَ فَلْيَسْجُدْ سَجْدَتَيْنِ

“Apabila seseorang kelebihan atau kekurangan (dalam shalat), maka hendaknya ia bersujud dua kali.” (HR. Muslim)

Demikian pula berdasarkan praktek Beliau, dimana Beliau pernah lupa dalam shalatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Aku adalah manusia; aku lupa seperti kalian lupa. Jika aku lupa, maka ingatkanlah aku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebab Yang Mengharuskan Sujud Sahwi

Sebab yang paling asasi yang mengharuskan sujud adalah lupa. Lupa di sini adalah karena salah satu di antara tiga sebab berikut ini:

  1. Kelebihan dalam shalat karena lupa, bisa karena kelebihan rakaat atau selainnya. Misalnya seseorang shalat Zhuhur lima rakaat, atau ia menambah sujud dan sebagainya, maka ketika itu, ia melakukan sujud sahwi.
  2. Kekurangan dalam shalat karena lupa, seperti meninggalkan yang rukun atau yang wajib. Jika ia meninggalkan rukun, maka ia wajib melakukan rukun itu, kemudian melakukan sujud sahwi. Tetapi, jika ia meninggalkan yang wajib seperti tasyahhud awwal, maka ia tutupi dengan sujud sahwi.
  3. Ragu-ragu. Misalnya, ia ragu-ragu apakah sudah shalat tiga rakaat atau empat rakaat? Maka dalam hal ini, ia wajib mendasari atas hal yang yakin, jika ia tidak dapat memastikan, maka yang yakin adalah yang paling sedikit, yaitu bahwa ia telah melakukan shalat tiga rakaat, sehingga ia tambahkan satu rakaat lagi, kemudian sujud sahwi.

Cara Sujud Sahwi

Ia melakukan sujud dua kali seperti sujud dalam shalat; ia bertakbir lalu sujud dan mengucapkan, “Subhaana Rabbiyal A’laa” 3 X, lalu bangun sambil bertakbir dan duduk di antara dua sujud sambil membaca doa duduk antara dua sujud, kemudian sujud lagi seperti sujud sebelumnya, lalu bangun sambil bertakbir dan mengucapkan salam tanpa tasyahhud (lihat buku Al Fiqh –fi’ah An Naasyi’ah- oleh Dr. Abdullah bin Musaa Al ‘Ammar).

Jika sujud sahwi dilakukan setelah salam, maka ia mengucapkan salam lagi setelah sujud dua kali.

Disebutkan dalam kitab As Sunan Wal Mubtada’aat, “Dan tidak ada riwayat yang dihapal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dzikr khusus untuk sujud sahwi, bahkan dzikrnya adalah sama seperti dzikr sujud yang lain dalam shalat. Adapan ucapan “Subhaan mal laa yanaamu wa laa yas-huu,” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengerjakannya, tidak pula sahabat dan tidak ada dalil dari As Sunnah sama sekali.”

Tempat sujud sahwi

Seseorang diberikan pilihan dalam hal sujud sahwi ini, baik sebelum salam atau setelahnya. Namun ada khilaf dalam masalah yang lebih afdhal(utama)nya, yang utama adalah memberlakukan Sunnah dalam hal ini; sehingga dalam masalah lupa yang Sunnah menjelaskan sebelum salam, maka kita melakukannya sebelum salam, dan dalam masalah lupa yang Sunnah menjelaskan setelah salam, maka kita sujud setelah salam (lihat penjelasannya di Rincian letak Sujud Sahwi yang paling utama’) . Al Hafizh Abu Bakar Al Baihaqi, “Yang  dekat dengan kebenaran adalah boleh kedua-duanya, dan inilah yang dipegang oleh sahabat-sahabat kami (yakni dari kalangan ulama).”

Rincian letak Sujud Sahwi yang paling utama; sebelum atau setelah salam.

  1. a.       Ketika kelebihan dalam shalat, seperti kelebihan ruku’, sujud, berdiri atau duduknya. Maka ketika ia telah salam, ia sujud sahwi dua kali lalu salam. Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الظُّهْرَ خَمْسًا فَقِيلَ لَهُ أَزِيدَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالَ صَلَّيْتَ خَمْسًا فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ بَعْدَ مَا سَلَّم

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat Zhuhurlimarakaat, lalu ada yang berkata kepada Beliau, “Apakah shalat ditambah?” Beliau bertanya, “Memangnya ada apa?” Ia menjawab, “Engkau shalatlimarakaat.” Maka Beliau sujud dua kali setelah salam. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

Misalnya seseorang shalat Zhuhur lalu ia berdiri ke rakaat kelima kemudian ingat atau diingatkan maka ia kembali tanpa takbir dan duduk membaca tasyahhud akhir serta mengucapkan salam, kemudian sujud sahwi dua kali lalu salam lagi. Demikian pula apabila ia tidak tahu kelebihan rakaat kecuali setelah selesai shalat maka ia sujud sahwi dua kali lalu salam.

  1. b.       Ketika kekurangan rakaat, misalnya ia mengucapkan salam sebelum sempurna shalatnya karena lupa kemudian ingat atau diingatkan maka ia tambahkan shalatnya kemudian mengucapkan salam, setelah salam ia sujud dua kali lalu salam lagi. Dalilnya adalah hadits Imran bin Hushshain berikut:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الْعَصْرَ فَسَلَّمَ فِي ثَلَاثِ رَكَعَاتٍ ثُمَّ دَخَلَ مَنْزِلَهُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ الْخِرْبَاقُ وَكَانَ فِي يَدَيْهِ طُولٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَذَكَرَ لَهُ صَنِيعَهُ وَخَرَجَ غَضْبَانَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى انْتَهَى إِلَى النَّاسِ فَقَالَ أَصَدَقَ هَذَا قَالُوا نَعَمْ فَصَلَّى رَكْعَةً ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّم

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat ‘Ashar, lalu salam pada rakaat ketiga, lalu masuk ke rumahnya, maka ada seorang yang bangkit menemuinya bernama Khirbaq, dimana pada kedua tangannya panjang, ia pun berkata, “Wahai Rasulullah,…dst.” ia pun menyebutkan perbuatan Beliau, maka Beliau keluar dalam keadaan marah sambil menarik selendangnya sehingga sampai di hadapan manusia dan bersabda, “Apakah orang ini benar?” Mereka menjawab, “Ya.” Maka Beliau mengerjakan satu rakaat lagi, lalu salam, kemudian sujud dua kali lalu salam.” (HR. Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah)

Hal Ini apabila jarak antara lupa dengan ingatnya tidak terlalu lama, jika sudah lama maka ia ulangi shalatnya dari awal lagi.

  1. c.       Ketika lupa tidak tasyahhud awwal atau lupa mengerjakan yang wajib lainnya dalam shalat maka ia sujud sahwi dua kali sebelum salam. Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata:

صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ مِنْ بَعْضِ الصَّلَوَاتِ ثُمَّ قَامَ فَلَمْ يَجْلِسْ فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ وَنَظَرْنَا تَسْلِيمَهُ كَبَّرَ قَبْلَ التَّسْلِيمِ فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ ثُمَّ سَلَّمَ

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan salah satu shalat bersama kami dua rakaat, lalu Beliau bangkit tanpa duduk (tasyahhud awwal), lalu orang-orang ikut bangkit bersama Beliau. Setelah mengakhiri shalatnya, dan kami menunggu salam Beliau, maka Beliau bertakbir sebelum salam, lalu sujud dua kali dalam keadaan duduk, kemudian salam.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Contoh lainnya adalah ia lupa tasyahhud awal dan langsung berdiri, lalu ia ingat atau diingatkan; maka jika belum sempurna berdiri ia kembali untuk duduk tasyahhud dan ia tidak perlu sujud sahwi[1], tetapi jika sudah sempurna berdiri, maka ia tidak perlu kembali duduk tetapi meneruskan saja dan sebelum salam ia sujud sahwi dua kali.  Hal ini berdasarkan hadits Mughirah bin Syu’bah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ فَلَمْ يَسْتَتِمَّ قَائِمًا فَلْيَجْلِسْ فَإِذَا اسْتَتَمَّ قَائِمًا فَلَا يَجْلِسْ وَيَسْجُدْ سَجْدَتَيْ السَّهْوِ

“Apabila salah seorang di antara kamu bangun dari dua rakaat (tidak tasyahhud awwal), tetapi belum sempurna berdiri, maka hendaknya ia duduk. Tetapi, apabila ia telah sempurna berdiri, maka janganlah ia duduk, dan hendaknya ia sujud sahwi dua kali.”

  1. d.       Jika seorang lupa, sehingga tidak mengerjakan salah satu rukun shalat, maka ia kerjakan rukun itu dan perbuatan setelahnya, lalu melakukan sujud sahwi nanti setelah salam.

Sehingga jika seseorang meninggalkan salah satu rukun shalat dan sudah masuk mengerjakan perbuatan shalat yang lain, setelah itu ia ingat, maka ia wajib mengerjakan kembali rukun itu lalu mengerjakan rukun-rukun setelahnya.

  1. e.       Jika ia ragu-ragu dalam shalatnya apakah ia shalat sudah dua rakaat ataukah sudah tiga rakaat, dan ternyata salah satunya lebih kuat baginya, maka ia dasari terhadap hal yang kuat itu, lalu ia sujud sahwi dua kali setelah salam lalu salam lagi. Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Mas’ud berikut:

عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لَا أَدْرِي زَادَ أَوْ نَقَصَ فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَحَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ قَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوا صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا فَثَنَى رِجْلَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ فَلَمَّا أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَالَ إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلَاةِ شَيْءٌ لَنَبَّأْتُكُمْ بِهِ وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيُسَلِّمْ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ

Dari Ibrahim, dari ‘Alqamah ia berkata: Abdullah bin Mas’ud berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat (Ibrahim perawi hadits ini berkata, “Kelebihan atau kekurangan[2].”) setelah Beliau salam, ada yang berkata kepada Beliau, “Wahai Rasulullah, apakah terjadi sesuatu dalam shalat?” Beliau menjawab, “Memangnya ada apa?” Mereka menjawab, “Engkau shalat begini dan begini.” Lalu Beliau melipat kedua kakinya dan menghadap kiblat, kemudian sujud dua kali, lalu salam. Kemudian Beliau menghadap kepada kami dengan wajahnya dan bersabda, “Sesungguhnya jika terjadi sesuatu dalam shalat tentu aku beritahukan, akan tetapi aku adalah seorang manusia; aku lupa sebagaimana kamu lupa. Jika aku lupa, maka ingatkanlah aku. Dan apabila salah seorang di antara kamu ragu-ragu dalam shalatnya, maka hendaklah ia pilih yang benar, lalu ia sempurnakan kemudian sujud dua kali.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Misalnya seseorang shalat Zhuhur, ia pun ragu-ragu di rakaat kedua; apakah sudah tiga rakaat atau dua rakaat? Lalu setelah ia pastikan ternyata sudah tiga maka ia tetap jadikan tiga rakaat dan menyempurnakan shalatnya lalu salam, kemudian sujud sahwi dua kali lalu salam lagi.

  1. f.        Jika ia ragu-ragu dalam shalatnya apakah ia sudah shalat dua rakaat atau tiga rakaat, ia telah berusaha untuk mengingat-ingat namun tidak dapat memastikan salah satunya, maka ia anggap masih sedikit/kurang karena itulah yang yakin, lalu sujud sahwi dua kali sebelum salam kemudian salam. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا فَلْيَطْرَحْ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ

“Apabila salah seorang di antara kamu ragu-ragu dalam shalatnya, ia tidak mengetahui berapa yang telah ia lakukan; tiga rakaat atau empat, maka hendaknya ia singkirkan keraguan itu dan mendasari dengan yang ia yakini, lalu ia sujud dua kali sebelum salam. Jika ia melakukan shalatlimarakaat, maka sujud itu menggenapkannya, tetapi jika ia shalat tepat empat rakaat, maka sebagai penghinaan bagi setan.” (HR. Muslim, Abu Dawud dan Nasa’i)

Misalnya seseorang shalat Zhuhur ketika rakaat kedua, ia pun ragu-ragu apakah sudah tiga ataukah masih dua dan belum bisa memastikan mana yang benar maka ia anggap masih dua rakaat, kemudian ia menyempurnakan shalatnya lalu sujud sahwi dua kali sebelum salam kemudian salam.

  1. g.       Jika selesai shalat ia ragu-ragu maka tidak perlu diperhatikan hingga benar-benar yakin (pasti), namun jika banyak keraguan, maka tidak perlu diperhatikan keraguan itu karena hal itu termasuk was-was.

Lupanya makmum

Jika makmum masuk bersama imam dari awal shalat, maka ia tidak perlu sujud sahwi sendiri ketika lupa, bahkan ia harus mengikuti imamnya. Tetapi jika ia sebagai masbuq dan lupa dalam melaksanakan apa yang luput, maka ia sujud sahwi setelah dilaksanakan apa yang telah luput itu.

Cara Mengingatkan imam yang lupa

Ketika Imam lupa, maka sikap makmum adalah sbb:

  1. Apabila imam tidak ingat ayat Al Qur’an yang ia baca, maka makmum mengingatkan dengan cara membacakan ayat yang benar. Dalilnya adalah hadits Ibnu Umar berikut:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى صَلاَةً فَقَرَأَ فِيْهَا فَالْتَبَسَ عَلَيْهِ فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ لِاَبِيْ : ( أَشَهِدْتَ مَعَنَا ؟ ) قَالَ : نَعَمْ . قَالَ : ( فَمَا مَنَعَكَ أَنْ تَفْتَحَ عَلَيَّ ؟ )

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat, lalu ada (bacaan) yang rancu bagi Beliau, maka setelah selesai shalat, Beliau bersabda kepada bapakku, “Apakah kamu ikut shalat bersama kami?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya, “Apa yang menghalangimu untuk mengingatkanku?” (HR. Abu Dawud dan lainnya, para perawinya adalah tsiqah).

  1. Apabila terjadi sesuatu dalam shalat, misalnya imam lupa dalam gerakan atau jumlah rakaat, maka makmum (yang laki-laki) mengingatkan dengan membaca “Subhaanallah.” Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:

اَلتَّسْبِيحُ لِلرِّجَالِ , وَالتَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ و زَادَ مُسْلِمٌ فِي اَلصَّلَاةِ)

“Tasbih itu untuk laki-laki dan tepukan itu untuk wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim. Muslim menambahkan, “Dalam shalat.”)

  1. Bagi makmum perempuan, cara memberitahukan imam cukup dengan menepuk (tashfiiq). Caranya menurut Isa bin Ayyub adalah dengan menepuk ke atas punggung telapak tangan yang kiri dengan menggunakan dua jari tangan kanan.

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

Maraaji’: Al Fiqh (Dr. Abdullah bin Musa Al ‘Ammar), Asy’yaa’ min Ahkaam sujuudis Sahwi fish shalaah (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin), Al Hidayah fii Masaa’il Fiqhiyyah Muta’aaridhah (A. Zakariyya), Al Wajiiz (Syaikh Abdul ‘Azhim bin Badawi), Sujuudus Sahwi (Dr. Sa’id Al Qahthani) dll.


[1] Syaikh Ibnu ‘Utsaimin menerangkan, bahwa sebagian Ahli Ilmu berpendapat, bahwa dalam keadaan ini ia tetap sujud sahwi karena hendak bangun itu merupakan tambahannya dalam shalat, wallahu a’lam.

[2] Yang sahih adalah kelebihan sebagaimana diterangkan Ibnul Atsir dalam Jaami’ul Ushuul (5/541).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 278 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: